POSO RAYA - Panggung Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak Kabupaten Poso mulai memanas menjelang pemungutan suara pada 19 November 2026.
Di tengah kontestasi yang akan berlangsung di 62 desa tersebut, petahana Kepala Desa Malei, Markus Lasirima, S.Sos., kembali maju dengan membawa misi besar. Yakni, melanjutkan pembangunan, memperkuat kemandirian ekonomi, meningkatkan kesejahteraan, serta menjaga kerukunan masyarakat.
Kembali bertarung dalam pesta demokrasi tingkat desa, Markus menawarkan visi mewujudkan Desa Malei yang maju, mandiri, sejahtera, aman, dan berdaya saing.
Ia menempatkan pemerintahan yang terbuka, partisipatif, responsif, dan akuntabel sebagai fondasi untuk membangun desa yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga mampu memberikan pelayanan publik yang mudah diakses, adil, dan berkualitas.
Bagi Markus, masa depan Malei tidak cukup dibangun dengan deretan infrastruktur dan proyek fisik. Lebih dari itu, pembangunan harus menyentuh kebutuhan nyata masyarakat, membuka ruang partisipasi warga, serta menghadirkan kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan taraf hidup.
Keterbukaan informasi, kecepatan pelayanan, dan musyawarah dalam menentukan arah pembangunan menjadi bagian penting dari agenda yang ditawarkannya.
βApabila kembali dipercaya oleh masyarakat, kami siap melanjutkan program-program yang bermanfaat, memperbaiki kekurangan, dan menyusun prioritas pembangunan bersama warga sesuai kewenangan serta kemampuan anggaran desa,β kata Markus Lasirima.
Di sektor ekonomi, Markus menaruh perhatian pada potensi yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat, mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta usaha kreatif. Potensi itu dinilai perlu diperkuat agar mampu membuka peluang usaha, memperluas pemasaran, dan meningkatkan pendapatan warga.
Untuk mewujudkannya, ia mendorong dukungan terhadap sarana produksi, pelatihan keterampilan, pengolahan hasil, akses pasar, pembangunan jalan usaha tani, serta pemenuhan kebutuhan air bersih dan pipanisasi.
Seluruh agenda itu tetap harus disesuaikan dengan skala prioritas, kewenangan pemerintah desa, dan kemampuan anggaran yang tersedia.
IKLAN / ADVERTORIAL
Namun, pembangunan Malei tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi. Pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan pemuda juga masuk dalam perhatian Markus. Dukungan terhadap sekolah, kegiatan belajar, Posyandu, serta akses layanan kesehatan bagi anak-anak, ibu, lanjut usia, dan kelompok rentan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Selain itu, kegiatan positif kepemudaan dan pengembangan fasilitas olahraga diharapkan dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda desa.
Pada sektor infrastruktur dan keamanan, Markus berkomitmen memperjuangkan fasilitas dasar sesuai kebutuhan warga dan kemampuan keuangan desa. Pelestarian lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta pemeliharaan ketertiban juga menjadi bagian dari agenda pembangunan.
Ia memandang persoalan masyarakat perlu diselesaikan melalui dialog dan musyawarah, termasuk dengan memfasilitasi akses warga terhadap pendampingan hukum.
βBagi kami, pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan yang baik, memiliki kesempatan meningkatkan kesejahteraan, dan tetap hidup aman serta rukun. Karena itu, sinergi pemerintah desa, BPD, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan seluruh masyarakat harus terus diperkuat,β ujar Markus.
Di tengah dinamika politik desa, Markus juga menempatkan adat, budaya, toleransi, dan persaudaraan sebagai kekuatan yang tidak boleh tergerus oleh perbedaan pilihan. Kolaborasi pemerintah desa dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), rohaniawan, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, serta pemerintah terkait dinilai penting agar aspirasi warga dapat diperjuangkan secara berkelanjutan sesuai kewenangan masing-masing.
Semangat persatuan itu terangkum dalam slogan yang diusungnya: βBeda Itu Anugerah, Damai Itu Indah, Torang Samua Basudara.β Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun Malei secara bersama-sama.
Dengan kembali maju di Pilkades 2026, Markus membawa tawaran untuk meneruskan program yang bermanfaat, membenahi kekurangan, dan menjadikan aspirasi masyarakat sebagai bagian penting dalam pembangunan desa.
Pada akhirnya, kontestasi ini bukan sekadar pertarungan memperebutkan jabatan kepala desa, melainkan juga momentum bagi masyarakat Malei untuk menentukan arah pembangunan dan masa depan desa.