Wow, Film Karya Orang Poso Diputar di Australia dan Empat Kota Indonesia

0
44
Sampul FILM Karya anak Poso

“A Long Day” Masuk 5 Besar Festival Film Pendek Indonesian Australia ReelOzind 2017

POSO RAYA– Kabar membanggakan bagi anda warga Poso dan pencinta film pendek, film karya anak Poso “A Long Day” masuk 5 besar dalam kategori fiksi di ajang festival film pendek Indonesian Australia ReelOzind 2017.

“A Long Day” film karya anak Poso yang mengambil cerita tentang persahabatan yang tak akan pudar saat konflik itu, nantinya juga akan di putar di Australian Center For The Moving Image (ACMI) yang merupakan pusat gambar bergerak dan pameran di kota Melbourne, Australia, pada 27 September- 5 Oktober 2017.

suasana pembuatan film A Long Day di sungai Poso (foto RYAN
suasana pembuatan film A Long Day di sungai Poso (foto RYAN)

Karya anak Poso itu merupakan suatu hal yang sangat membanggakan, karena bisa mengalahkan puluhan film pendek dari negara lain yang ikut bersaing di ajang festival film pendek Indonesian Australia ReelOzind 2017.

Tak hanya itu kabar mengejutkan juga, jika “A Long Day” akan di putar di empat kota di Indonesia seperti Bali, Malang, Yogyakarta dan Jakarta di gedung Institut Francais Indonesia pada 27 September 2017 bersamaan dengan pemutaran di negara Australia.

Bahkan film yang di buat dengan menggunakan alat seadanya itu, kini telah ditampilkan secara resmi di website ReelOzind 2017.

Saifullah Mechta Sutradara dan Produser A Long Day menyampaikan, proses Pra produksi film memakan waktu satu tahun, sedangkan untuk produksi filmya dilakukan selama 3 bulan dan post film diajang festival film pendek Indonesian Australia ReelOzind 2017 dilakukan selama dua bulan.

“Allhamdulilah saya bersyukur, karya kami bisa masuk lima besar serta akan di putar di ACMI Australia, tambah bersyukur lagi akan di putar di empat kota di Indonesia,” ujarnya.

Warga Stupa Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota itu mengatakan, dirinya tertarik membuat ide film “A Long Day” karena ada pesan moral yang akan di sampaikan kepada manusia yang ada di bumi ini. Selain itu agar dunia luar bisa tahu bahwa anak Poso itu punya bakat di dunia perfiliman.

“Saya membut film ini untuk semua orang, saya katakan konflik dan peperangan itu selalu akan mengorbankan orang yang tidak berdosa yang tidak tahu apa-apa,” ucap Saifullah Mechta.

Dirinya pun berpesan, semoga penonton bisa merasakan emosi dan situasi dan bahkan masuk ke dalam diri korban kemudian menyentuh ranah kesadaran sebagai esensi manusia untuk saling mencintai, jadi bisa mulai melakukan hal yang berbeda berdasarkan hal itu.(PR)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY