Potensi Radikalisme Berada Pada Urutan 52,5 Persen

0
39
Foto: Suasana dialog BNPT bersama Pemkab Poso dan tokoh agama di Rujab Rorulemba Kamis (24/8) kemarin

BNPT Gelar Dialog Bersama Pengurus Mesjid

POSO RAYA– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Sulawesi Tengah menggelar dialog dengan seratusan warga dari para ta,amir atau pengurus mesjid dan para pengurus mushola yang ada di Poso. Dialog ini dilakukan untuk mencegah mesjid dari paham radikalisme serta mesjid dijadikan sebagai syiar damai.

Dialog bersama BNPT ini digelar di gedung Torulemba Rujab Poso yang dihadiri oleh Wabup Samsuri, pihak Kepolisan, TNI dan tokoh agama serta seratusan tamu undangan.

Dalam kegiatan ini, pihak BNPT menayangkan sejumlah perisitiwa aksi teror yang terjadi di negara Indonesia melalui layar lebar yang di nonton secara bersama-sama .

Dimana dalam tayangan tersebut terlihat sejumlah aksi teror ledakan bom yang dilakukan pelaku untuk mengganggu situasi keamanan di Indonesia mulai dari bom Bali, bom gereja di Medan dan aksi teror lainya di Indonesia.

Sementara itu Musakir Tawir ketua FKTP BNPT Sulteng dalam materinya menyampaikan, dari data BNPT umur usia muda sangat rentan mudah di pengaruhi pemahaman radikalisme untuk menjadi pelaku aksi terorisme.
“Dari data yang saya sampaikan pada layar monitor ini, anak usia muda mudah di pengaruhi pemahaman radikalisme,” ungkap Musakir Tawir saat menjelaskan materinya. Kamis 24 Agustus 2017.

Kata Musakir, dar hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar dari total responden memiliki skor penilaian variabel potensi radikalisme pada kategori sedang, yaitu 290 responden (96,67%), dan 10 responden (3,33%) memiliki skor penilaian variabel potensi radikalisme pada kategori tinggi.

Menurutnya, dimensi potensi radikalisme berada pada urutan 52,5 % meliputi pemahaman 62,67% sikap 45,14% tindakan 48,82%.

Arifin Tuamaka ketua MUI Poso mengatakan, jika mesjid memiliki posisi yang strategis bagi umat Islam dalam upaya membentuk pribadi dan masyarakat yang Islam, maka mesjid harus difungsikan dengan sebaik-baiknya.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa satu budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat umat Islam, yang pertama dan utama didirikan di mesjid secara umum mesjid memiliki banyak fungsi antara lain sosial pendidikan Islam dan pemersatu umat,” ucapnya.

Arifin menambahkan, imam hendaknya orang yang benar-benar mampu mengerjakan sholat, karena itu jika timbul sesuatu yang menghalangi imam, imam mengajukan orang lain makmum yang dibelakangnya untuk mengganti menjadi imam.

Wabup Samsuri menyampaikan, melalui momentum kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat semangat kebangsaan dan nasionalisme dalam rangka pencegahan paham radikal dan ISIS demi keutuhan dan kesatuan NKRI.

“Terorisme musuh bersama, karena itulah perlu kebersamaan untuk menanggulanginya semangat proklamasi yang telah kita korbankan bersama diharapkan mampu menggugah seluruh komponen bangsa untuk menyatukan tekad dan komitmen demi mencegah paham radikalisme dan ISIS yang nyata mengancam keutuhan dan kesatuan NKRI,” harap Wabup Samsuri. (uly)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY