Sulteng Diharap Jadi Provinsi Layak Anak

0
25

POSO RAYA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise berharap Sulawesi Tengah menjadi salah satu provinsi layak anak di Indonesia.

“Malam ini, Minggu (30/7) saya akan me-launching kota layak anak untuk Provinsi Sulawesi Tengah,” katanya saat menjawab pertanyaan wartawan setelah menghadiri peringatan Puncak HAN 2017 di Halaman Masjid Agung Darusslam Palu, Minggu sore.

Menteri Yohana Yembise mengaku akan melaunching 12 kabupaten dan 1 kota se-Sulawesi Tengah sebagai kota layak anak untuk menuju provinsi layak anak.

Menteri PPPA Yohana Susana Yembise didampingi Gubernur Sulteng Longki Djanggola memberikan keterangan kepada awak media disela-sela peringatan puncak HAN 2017 di Halaman Masjid Agung Darussalam Palu, Minggu (Foto: Dok.antara)
Menteri PPPA Yohana Susana Yembise didampingi Gubernur Sulteng Longki Djanggola memberikan keterangan kepada awak media disela-sela peringatan puncak HAN 2017 di Halaman Masjid Agung Darussalam Palu, Minggu (Foto: Dok.antara)

Ia berharap dengan pencanangan tersebut beberapa persyaratan untuk menjadi kota dan provinsi layak anak dapat diperhatikan dan dipacu oleh gubernur, bupati dan wali kota di daerah.

“Persyaratan kota layak harus dipenuhi oleh kepala-kepala daerah, organisasi perangkat daerah dan pejabat lainnya di Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Ia mengaku bahwa kekerasan terhadap anak dan perempuan di Indonesia masih signifikan.

“Seluruh indonesia kekerasan terhadap anak cukup tinggi, jika di Sulteng juga tinggi sesuai kata Gubernur Longki Djanggola maka hal ini harus jadi perhatian serius,” ujarnya.

Secara nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah mencanangkan 319 kabupaten dan kota se-Indonesia sebagai kota layak anak, dari 516 kabupaten dan kota.

“Kami menargetkan tahun 2030 Indonesia telah menjadi negara layak anak, atau negara tanpa kekerasan terhadap anak,” ujarnya.

Sementara itu Gubernur Sulteng Longki Djanggola menginginkan kekerasan terhadap anak dan perempuan segera diakhiri.

“Kekerasan terhadap anak dan perempuan jangan hanya teori, tetapi harus benar-benar di akhiri,” tegas Longki Djanggola. (ant)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY