Yadi Hendriana Kambali Pimpin IJTI

0
139
Kapuspen Mayjen TNI Wuryanto, Ketua KPI Yuliandre Darwis, Ketua Dewan Pers Stanley Adi Prasetyo, dan Sahlisospol Kapolri Irjen Pol Iza Fadri, sebagai pembicara dalam Kongres V IJTI di Jakarta. (Foto : Dokumntasi IJTI)

POSO RAYA – Kongres ke V yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), sebagai wadah berhimpun para jurnalis televisi di Indonesia, Yadi Hendriana kembali memimpin organisasi tersebut setelah memperoleh suara terbanyak, mengungguli perolehan suara dua kandidat lainnya, yakni Hendrata Yudha dan Candri Suriprati.
Dalam kongres yang digelar di Novotel Jakarta Gajah Mada, pada tanggal 20 – 22 Januari 2017, pemilihan suara yang berlangsung pada Sabtu malam (21/12), Yadi Hendriana memperoleh sebanyak 130 suara, dari  250 peserta kongres yang hadir. Mereka  merupakan perwakilan dari 31 Pengda dan 5 Korda IJTI yang ada di seluruh Indonesia.
Semula, kegiatan tersebut akan digelar pada November 2016. Namun sempat tertunda, karena situasi dan kondisi di Ibukota yang tidak memungkinkan. “Kita ingin kongres berjalan lancar, sehingga bisa menghasilkan keputusan yang terbaik bagi organisasi dan masyarakat. Karena itu kami mengundang anggota IJTI di seluruh Indonesia, untuk ikut hadir dan mensukseskan Kongres,” kata Herik Kurniawan, Ketua Panitia Kongres.
Kongres yang terlaksana itu, memilih kepengurusan IJTI untuk periode 2016 – 2020. Sebelumnya, kepengurusan organisasi Jurnalis Televisi, periode 2012 – 2016, dibawah kepemimpinan Yadi Hendriana, berakhir November tahun lalu. “Banyak terobosan baru yang sudah kami lakukan, salah satunya IJTI menjadi lembaga uji kompetensi khusus untuk Jurnalis Televisi, “ Kata Yadi Hendriana, Ketua Umum IJTI.
Ia menambahkan, pelaksanaan sertifikasi Jurnalis Televisi itu, sejalan dengan Kebijakan Dewan Pers, terkait peningkatan kompetensi wartawan. “Standar kompetensi, menjadi alat ukur profesionalitas jurnalis,” katanya menambahkan. Yadi pun terpilih kembali menjadi ketua umum, dan melanjutkan amanat organisasi selanjutnya.

Menurut Yadi, profesionalisme memegang peranan penting untuk media yang merdeka dan bebas, dalam memerjuangkan tata kelola pemerintahan yang baik, pemberdayaan masyarakat, dan pemberantasan kemiskinan. Dengan peningkatan kompetensi tersebut, jurnalis dapat mengenal dan memahami sistem hukum yang harus menjadi jalan satu-satunya untuk memastikan keselamatan dirinya dalam bertugas dan memutus mata rantai impunitas terhadap para pelaku kekerasan terhadap jurnalis.

Selain memilih Ketua Umum IJTI, Kongres tersebut juga diisi dengan kegiatan symposium nasional. Symposium yang mengambil tema “Stop Impunitas pelaku Kekerasan terhadap Jurnalis”. Tema itu diangkat dengan pertimbangan karena masih banyaknya pembiaran kasus kekerasan yang menimpa jurnalis.
Symposium itu menghadirkan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, sebagai keynote speaker. Sementara pembicara dalam kegiatan tersebut yakni, Kapuspen Mayjen TNI Wuryanto, Sahlisospol Kapolri Irjen Pol Iza Fadri, Ketua KPI Yuliandre Darwis, dan Ketua Dewan Pers Stanley Adi Prasetyo. Hadir pula sebagai pembicara tamu, Ketua Dewan Pers Timor Leste, Virgilio da Silva Guterees dan Jurnalis Filipina, Felino Antonio Gaston. Tema symposium tersebut diangkat, karena masih banyaknya pembiaran kasus kekerasan yang menimpa jurnalis.

Sekilas Tentang IJTI

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), merupakan satu-satunya organisasi Jurnalis Televisi di Indonesia. Pembentukan IJTI digagas jurnalis dari 5 stasiun TV yakni TVRI, RCTI, SCTV, Indosiar dan ANTV. Kongres I IJTI digelar, 8 Agustus 1998 di Jakarta yang diikuti 300 Jurnalis TV dan memilih Haris Jauhari, sebagai Ketua Umum Pertama. Kini IJTI beranggotakan 1700 jurnalis yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sesuai dengan Anggaran Dasar – Anggaran Rumah Tangga, IJTI memiliki tujuan umum yaitu mewujudkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab, sementara tujuan khususnya mewujudkan korps Jurnalis Televisi Indonesia yang mandiri, bebas dan bertanggung jawab. Mewujudkan Jurnalis Televisi yang memiliki kemampuan profesional, serta kesetiakawanan profesi dan hidup dalam kesejahteraan jasmani dan rohaniah. (MM)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY