Penghasil Sayuran yang Punya Potensi Wisata Megalit

0
140
Camat Lore Timur Jerry KS Gembu meniup lilin menandai perayaan ke-9 usia kecamatan yang dipimpinnya. Ini merupakan perayaan pertama yang dilakukan sejak kecamatan ini berdiri pada 9 Hanuari 2008 silam.(foto ;dok)

POSO RAYA – Tanggal 9 Januari 2017 lalu, kecamatan Lore Timur genap berusia 9 tahun, sebuah usia yang masih sangat muda. Perayaan ulang tahun dilaksanakan secara sederhana yang dilakukan merupakan kali pertama sejak mekar dari Lore Utara.

Daerah ini terus bergerak maju dengan mengandalkan potensi pertanian palawija.Lore Timur yang beribukota Maholo merupakan sumber utama sayuran yang memenuhi kebutuhan masyarakat kabupaten Poso dan Sulteng. Bahkan produk sayuran seperti kol, tomat dan wortel dari sini dipasarkan hingga ke Kalimantan melalui pelabuhan penyeberangan Feri di kelurahan Taipa, kota Palu.
Camat Lore Timur, Jerry KS Gembu mengatakan, perayaan HUT kecamatan yang dipimpinnya berlangsung sederhana di kantor kecamatan. Selain unsur tripika, hadir para kepala desa dan tokoh adat kecamatan. Pada kesempatan itu dibacakan pula sejarah terbentuknya kecamatan yang memiliki sejumlah objek wisata situs megalitik.
“Terbentuknya kecamatan Lore Timur berangkat dari upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat disini. Selama ini kalau mau berurusan administrasi harus pergi cukup jauh ke Wuasa,”kata Jerry mengenai salah satu alasan pemekaran kecamatan Lore Timur yang terdiri dari 5 desa.
Selain potensi sayuran dan wisata megalitik, Lore Timur juga masih memiliki ribuan lahan yang bisa dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecamatan yang berjumlah 5.688 jiwa itu.
Ditengah berbagai potensi besar yang dimilikinya, Lore Timur juga punya persoalan serius yang perlu penanganan serius pula, yakni keberadaan penyakit langka Schistosomiasis. Bertahun-tahun upaya penanganan terhadap penyakit ini dilakukan belum juga mampu menghilangkannya. Penyakit yang dibawa oleh keong Schisto ini bahkan menjadi isu nasional yang membuat banyak orang khawatir. Namun masyarakat Lore Timur justru menganggap keberadaan penyakit ini sama seperti ancaman penyakit lainnya.
“Sama saja, kita hanya harus memahami bahwa keberadaan penyakit Schisto ini karena kondisi alam juga, kita harus berteman dengan mereka, kita perbaiki saja saluran air, mereka akan pindah ke jalurnya sendiri,”kata seorang warga Maholo.(IAN)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY