Dewan Adat Lore Gelar Upacara Adat

0
123
Dewan Adat kecamatan Lore Timur saat menggelar sidang dilokasi tambang. Hasilnya satu lubang tambang ditutup lewat upacara adat dan pemiliknya dijatuhi sanksi membayar 1 ekor kerbau. (Foto: istimewa)

POSO RAYA – Upaya dewan adat kecamatan Lore Timur untuk menutup satu lokasi tambang ilegal di desa Mekar Sari, akan dibuktikan. Langkah itu diambil karena pemilik lahan tidak memiliki izin penambangan, dan dianggap bakal merusak lingkungan serta cagar budaya yang sangat dihormati orang Lore.

Semula, lokasi tambang tersebut tidak diketahui karena disamarkan seakan rumah kebun berdinding seng. Namun saat diperiksa dibagian belakang, terlihat sebuah lubang berdiameter hampir 1 meter dengan kedalaman sudah lebih dari 25 meter. Disekeliling lubang itu dikelilingi dinding papan.

Salah seorang tokoh adat Lore Timur mengatakan, saking dalamnya, untuk masuk kedalam orang harus menggunakan bantuan oksigen yang dipompa menggunakan blower. “Kami sampaikan bahwa disini tidak ada emasnya sama sekali. Ini buktinya, mereka sudah gali puluhan meter, tidak ada yang didapat, yang ada hanya ancaman kerusakan lingkungan,” kata salah seorang tetua adat di Lore Timur, beberapa waktu lalu, usai mengecek lubang galian tersebut.

Ancaman lingkungan akibat aktifitas ilegal ini memang nyata. Sebab tidak jauh dari lubang yang digali itu, tepat dibawahnya terdapat saluran irigasi yang menjadi sumber air baku warga dan untuk mengairi sawah.
Keberadaan lokasi tambang baru yang dianggap sudah membahayakan lingkungan dan cagar budaya itu membuat dewan adat mengambil sikap tegas. Menjatuhkan sanksi adat berupa denda 1 ekor kerbau yang harus ditanggung oleh pemilik lahan.

Alasan dewan adat sampai harus menjatuhkan denda adat, karena ada hal-hal yang menyangkut metafisika yang dipercayai para tetua adat, yakni hujan yang tidak berhenti mengguyur perkampungan tersebut. Entah percaya atau tidak, setelah dilakukan upacara adat menutup lubang itu, cuaca sudah mulai normal kembali.

Ketua dewan adat kecamatan Lore Timur, S Ama mengatakan, pihaknya tidak akan memberikan izin kepada siapapun untuk melakukan penambangan dan menggali dilokasi itu. Selain karena merusak lingkungan juga karena memang tidak mengandung emas sama sekali.

Ama berharap masyarakat dari luar Lore untuk tidak datang lagi kelokasi ini untuk mencari emas dikawasan itu. Bagi sebagian orang Lore, tanah sangat dihormati, karenanya menggali tanah secara serampangan bukan hanya merusak alam tapi juga melukai hati. Itulah sebabnya mengapa dewan adat akhirnya turun tangan dan harus menutup lokasi tambang, melalui sebuah upacara adat untuk memulihkan dari kerusakan.

Sanksi adat berupa denda satu ekor kerbau, yang dikenakan dewan adat kepada si pemilik lahan telah dijatuhkan. Sesuai rencana, upacara adat akan di gelar pada Kamis 12 Januari 2017. Berdasarkan informasi yang diperoleh Poso Raya, pembayaran denda adatnya akan dimulai pada pukul 10.00 pagi dilokasi tersebut. Salah satu ritualnya adalah potong kerbau dilokasi penambangan.

Sayangnya, Poso Raya tidak dapat melakukan konfirmasi langsung kepada pemilik lahan, Samsul Alam, sebab keberadaannya tidak diketahui persis dimana. Lahan seluas lebih dari 1 hektar itu, memang telah dibeli Samsul Alam dari warga Lore.

Kepala Desa Mekar Sari, Lore Timur, I Nyoman Sueca yang dihubungi Poso Raya via telepon seluler, juga tidak berhasil dikonfirmasi. “Bapak lagi keluar, pergi liat orang kerja kapas,” ujar si penerima telepon. (MM)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY