Film Pendek A Long Day, Nilai Persahabatan Pemuda Poso Saat Konflik

0
28
Foto: Saat Proses Syuting Di Sungai Poso

POSO RAYA – Komunitas Kayu Hitam Production Poso, yang berisi kumpulan para pencinta film saat ini tengah memproduksi sebuah film yang berkisah tentang nilai persahabatan antar pemuda yang berbeda keyakinan. Film pendek ini mengambil latar belakang Poso 18 tahun silam, saat kerusuhan terjadi.

Jika Alejandro Inarritu mengambil kedalaman hutan Amazon yang indah untuk memperkaya cerita film Revenant yang memenangkan Oscar, Saifullah Mechta, produser sekaligus sutradara film ini mengeksplorasi keindahan alam Poso untuk memperlihatkan betapa cantiknya daerah ini.

Sejak terbentuk pada tahun 2000 Komunitas Kayu Hitam telah menghasilkan sebuah film berjudul Matahari di Mata Hati. Film ini menjadi semacam kejutan ditengah haru biru cerita tentang kekerasan berbalut isu terorisme di Poso. Alih-alih menceritakan situasi seram, film Matahari di Matahati justru menunjukkan Poso yang adem dan damai dengan segala romantikanya.

Pembuatan film ini juga menunjukkan betapa banyaknya talenta Poso di dunia sinematorgrafi. Seluruh kru film ini adalah anak-anak Poso yang punya kemampuan dibidang film. Sebagian dari mereka adalah alumni kampus broadcasting di Jogyakarta, salah satu pusat seni di Indonesia.

A Long Day, bercerita tentang nilai luhur persahabatan yang dilatari konflik dan budaya. Dalam film pendek ini, diceritakan, bagaimana disaat berbagai masalah terjadi, rasa persahabatan tak akan pernah pudar.

Pemeran utama Mariano Ombo, seorang pemuda pelosok asal desa Tampemadoro dan Sahrul, pelajar SMAN 3 Poso mungkin masih asing bagi orang Poso sendiri. Namun kualitas akting mereka tidak perlu diragukan. Saat syuting, ekspresi keduanya tidak kalah dengan aktor-aktor kenamaan.

Dengan menggunakan alat syuting sederhana, para kru seperti Sirajudin Sidora alias Aba, Safilullah Mechta alias Ipul, Nirwan Latowe alias Iwan dan dibantu Hidayat Yayat yang merupakan pelajar SMK Poso Pesisir, mampu mengeksplorasi keindahan alam Poso, mulai dari sungai, desa hingga hutan hujan.

Aba mengatakan, film ini dibuat se sederhana mungkin. ” Semua yang terlibat dari pemeran, kru hingga lokasi film semuanya anak-anak Poso” ujar Aba.

“Kami berusaha membuat membuat film ini sebagus mungkin, kami berkarya untuk tanah Poso. Ceritanya pun sebagian kami ambil dari kisah nyata yang terjadi di Poso. Intinya damai itu indah,”kata Sirajudin alias Aba yang juga pernah menjadi pemeran dalam sebuah film lokal Poso.

Sementara Nirwan Latowe mengatakan, apa yang dilakukan oleh komunitas Kayu Hitam Production Poso merupakan sebuah proses dalam berkarya, dan yang paling penting adalah bagaimana mereka bisa tetap terus menghasilkan karya. (RD)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY