Warga Olumokunde Pertanyakan Penyelidikan Polisi

0
124
Warga desa Olumokonde memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di Prees room mengenai hilangnya 120 juta uang desa mereka dan penanganan kasusnya yang terkesan lamban oleh pihak kepolisian.(foto :sofyan)

POSO RAYA – Sejumlah tokoh masyarakat desa Olumokunde, kecamatan Pamona Timur mempertanyakan hasil penyelidikan Polisi atas laporan hilangnya uang desa sebesar 120 juta rupiah dari brankas desa itu pada 9 Juni 2016 lalu. Hampir 5 bulan sejak peristiwa itu Polisi belum berhasil menangkap pelaku yang dicurigai bukan berasal dari luar desa.
Yus Mokunde, warga setempat mengatakan, ada sejumlah kejanggalan dalam kasus ini. Misalnya, warga tidak mengetahui kalau desa mereka sudah menerima dana desa dan kepala desa tidak menempatkan orang untuk berjaga di kantor desa, padahal saat itu di brankas, ada uang ratusan juta rupiah.
“Datangnya uang itu tidak dikasi tau ke warga, nanti hilang baru besoknya dikasi tau bahwa ada uang di brankas dan hilang malam sebelumnya,”kata Yus. Ditambahkannya, saat itu yang mengetahui ada uang desa didalam brankas ada 3 orang, mereka adalah pejabat kepala urusan (KAUR) disamping kades, sekdes dan bendahara.
“Kami heran, Polisi seperti tidak serius tangani kasus ini, buktinya sudah lebih 3 bulan belum ada titik terang,”kata warga lainnya. Pelaku pencurian ratusan juta uang itu seperti mengetahui dimana posisi brankas disimpan dan membukanya dengan menggunakan linggis.
Saat warga menanyakan perkembangan penyelidikan kasus ini kepada kepala desa, Undian Patowo, mereka mendapat informasi bahwa Polisi sudah menemukan sidik jari pelaku. Bagi warga Olumokunde, pencurian uang ratusan juta rupiah itu mengherankan. Sebab menurut mereka, selama ini tidak ada informasi berapa dan kapan dana desa akan diterima.
Kepala Bagian Pemdes, Yunirson Penyami meminta masyarakat menunggu hasil penyelidikan Polisi dan tidak berspekulasi terkait hilangnya uang desa itu. Sementara kecurigaan menurut warga yang datang menyampaikan persoalan ini ke media dan DPRD tertuju pada 3 pejabat desa yang dianggap paling mengetahui bagaimana uang itu disimpan.
Selain itu menurut 7 orang warga Olumokunde itu, hingga saat ini mereka belum pernah mengetahui berapa sebenarnya jumlah dana desa yang menjadi hak desa mereka. Kepala desa lanjut Yus, tidak pernah menyampaikan kepada warga.
Kasus hilangnya uang ini juga membuka informasi lain bagaimana pengelolaan keuangan dan pembangunan desa Olumokunde. Salah satunya dalam program bedah rumah dimana warga yang sudah punya rumah berlantai tehel tetap diberikan bantuan, sementara rumah warga yang berlantai semen kasar justru tidak diberikan.(IAN)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY