Unkrit Skorsing Mahasiswi Korban Kekerasan

0
159
Salah satu kegiatan di kampus Unkrit(foto :dok)

POSO RAYA – Beragam jenis kekerasan kini masih mengintai perempuan di Indonesia, khususnya di kabupaten Poso. Kekerasan seksual misalnya, bukan hanya terjadi dilingkungan pemukiman, didalam lingkungan perguruan tinggi bahkan juga terjadi. Sayangnya pihak Kampus justru menjatuhkan sanksi kepada korbannya. Hal inilah yang dialami oleh MA (19) seorang mahasiswi kampus yang peletakan batu pertama pembangunannya di lakukan oleh presiden ke-6 SBY tahun 2007 silam. Pelakunya diduga seorang pejabat kampus yang cukup penting, menjabat sebagai ketua jurusan disalah satu program studi.
Dalam surat skorsing yang ditandatangani oleh Rektor Unkrit, Lies Sigilipu, disebutkan bahwa MA dilarang mengikuti perkuliahan selama 1 semester karena dianggap merusak nama baik kampus dan melanggar etika moral.
Pendamping korban, Evi Tampakatu mengatakan, sanksi yang diberikan kepada korban terhitung sejak 2 Oktober 2016. Selama masa skorsing, korban tidak dibenarkan mengikuti semua proses perkuliahan mauapun kegiatan akademik lainnya di kampus yang menggaungkan slogan kampus perdamaian ini.
Dikatakan Evi, seharusnya pihak kampus melindungi korban dengan cara diberikan pendampingan, membantu penyembuhan trauma hingga penyelesaian secara hukum, namun yang terjadi justru sanksi yang diterima oleh korban dari kampusnya.
“Saat ini korban sangat tertekan dan ketakutan. Dia mengalami intimidasi berlapis-lapis dari dalam lingkungan kampusnya,”kata Evi. Lanjutnya, menurut korban dan beberapa temannya, terduga pelaku mengancam mahasiswanya agar menjauhi korban. Jika mereka masih bergaul, terduga pelaku mengancam akan memberikan nilai akademik yang buruk.
Bukan hanya sanksi berupa skorsing yang diterima korban, bahkan pihak kampus mencabut beasiswanya tanpa alasan yang jelas. Saat ini MA sudah melunasi biaya kuliahnya namun dianggap hangus karena sanksi yang diterimanya.
Sikap pihak Unkrit terhadap perempuan korban kekerasan dinilai oleh Evi bertentangan dengan nilai-nilai humanitas yang seharusnya dijunjung oleh perguruan tinggi. Pihak kampus sendiri cenderung mengarahkan kasus ini pada pelanggaran moralitas karena korban dianggap telah melakukan perzinahan, padahal dalam testimoninya, menurut Evi, korban mendapatkan paksaan hingga ancaman.
Awal mula persoalan ini ketika pelaku yang juga dosen mengajak korban untuk pacaran dengan paksaan yang membuat korban terpaksa menerimanya. Bukan itu saja, berdasarkan pengakuan korban saat meminta berhubungan badan dan korban menolak, pelaku mengancam akan mempengaruhi dosen lain untuk memberikan nilai buruk kepadanya hingga tidak bisa lulus kuliah.
Yang lebih menyedihkan, pelaku mengatakan kepada korban kalau dia merekam dengan video tersembunyi aksinya kepada korban. Ancaman dengan rekaman tersebut digunakan pelaku agar korban patuh kepadanya.
Sementara itu Rektor Unkrit Lies Sigilipu yang dihubungi wartawan enggan memberikan tanggapan apapun. Bahkan saat dihubungi via SMS ke nomor selulernya, dia hanya menjawab singkat. “Maaf saya lagi ikut acara di Poso,”kata Lies.(AND)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY