Morowali Jadi Basis Industri Logam Indonesia

0
269
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan penjelasan terkait keberadaan ribuan TKA asal China di sejumlah perusahaan tambang di Morowali. Dia menyebutkan keberadaan para pekerja asing itu hanya sementara untuk alih teknologi.(foto :Mitha meinansi)

POSO RAYA – Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto menegaskan Kementerian Perindustrian akan terlibat dalam mendorong percepatan pembangunan Kawasan Industri Morowali yang merupakan salah satu prioritas dalam program pengembangan basis industri logam.

Dalam kunjungan kerjanya di Morowali, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto meninjau lokasi kawasan industri di atas lahan seluas 2.000 hektar. Lokasi yang menjadi kawasan industri terpadu itu diperkirakan akan menarik investasi sebesar Rp 78 triliun, dan menciptakan tenaga kerja langsung sebanyak 20 ribu orang, serta tenaga kerja tidak langsung mencapai 80 ribu orang.

“Kami terus memacu pembangunan kawasan industri di luar Pulau Jawa, termasuk di Morowali ini, sebagai wujud implementasi arahan Bapak Presiden Joko Widodo untuk memfokuskan agenda pemerintah di tahun 2017 pada pemerataan,” kata Menperin Airlangga Hartarto, dalam kegiatannya saat meninjau Kawasan Industri Morowali di Sulawesi Tengah, Rabu (11/1).

Menperin Airlangga tiba di lokasi perusahaan tambang PT Indonesia Morowali Industrial Park, dari Kendari, Sulawesi Utara menggunakan helicopter milik PT IMIP didampingi Koordinator Direktur Eksekutif IMIP,  Alexander Barus, dan langsung mendarat dilandasan helipad milik PT IMIP.

Menurut Airlangga, Kemenperin memfasilitasi pengembangan 14 kawasan industri di luar Pulau Jawa dalam upaya mengakselerasi cita-cita pemerintah untuk pemerataan industri sekaligus menciptakan Indonesia sentris. “Keberadaan industri-industri di kawasan ini akan memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan nasional sehingga mampu menyejahterakan masyarakat,” tuturnya.

Menperin juga menyatakan, Kawasan Industri Morowali turut mendorong langkah pemerintah dalam program hilirisasi yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri. “Oleh karena itu, di kawasan ini difokuskan pada pembangunan industri pengolahan dan pemurnian mineral logam atau smelter dengan bahan dasar nikel,” jelasnya.

Menperin memaparkan, sejauh ini perkembangan pembangunan industri smelter nikel dan fasilitas pendukung lainnya di Kawasan Industri Morowali, antara lain telah beroperasinya industri smelter feronikel PT Sulawesi Mining Investment yang berkapasitas 300 ribu ton per tahun sejak Januari 2015. “Pabrik ini didukung oleh satu unit PLTU dengan kapasitas 2×65 MW. Pada tahun 2015, perusahaan telah menghasilkan nickel pig iron (NPI) sebanyak 215.784,11 ton per tahun,” ujar Airlangga.

Selanjutnya, sejak Januari 2016, telah beroperasi industri smelter feronikel PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun dan didukung oleh satu unit PLTU berkapasitas 2×150 MW.

Pada awal tahun 2016, perusahaan mencatatkan produksi sebanyak 193.806 ton. “Sebagai tahap lanjutan dari PT. Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, saat ini juga telah dilakukan commissioning test pabrik stainless steel dengan kapasitas 1 juta ton per tahun,” ungkapnya

Selain itu, terdapat pula industri smelter feronikel PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel dengan target kapasitas 600.000 ton per tahun dan stainless steel sebanyak 1 juta ton per tahun yang tahap pembangunannya saat ini mencapai 60 persen. “PT. Indonesia Ruipu Nickel and Chrome yang merupakan smelter Chrome juga masih dalam tahap pembangunan dengan progres 60 persen, yang diharapkan pada awal tahun 2018 pabrik ini dapat mulai berproduksi,” ujarnya.

Industri smelter lainnya, yakni PT. Broly Nickel Industry Pabrik Hidrometalurgi dengan kapasitas 2.000 ton per tahun, yang akan dikembangkan menjadi 8 ribu ton per tahun nikel murni sedang dalam uji coba produksi.

Terkait tenaga kerja lokal, Menperin mengatakan, penyerapan puluhan ribu tenaga kerja di kawasan yang dikelola oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), akan terealisasi apabila pabrik stainless steel berkapasitas dua juta ton dan beberapa industri hilir lainnya telah beroperasi.

“Hingga Desember 2016, kebutuhan tenaga kerja pelaksana di kawasan industri ini mencapai 11.257 orang dan untuk tenaga kerja level supervisor atau enjinir sebanyak 1.577 orang,” ungkapnya.

Sementara itu, diproyeksikan pada tahap kedua periode tahun 2017-2020, penambahan kebutuhan tenaga kerja pelaksana mencapai 10.800 orang dan untuk tenaga kerja level supervisor atau enjinir sebanyak 1.620 orang. “Jumlah tersebut tentunya akan terus bertambah,” tegasnya.

Terkait adanya tenaga kerja asing (TKA), Airlangga menjelaskan, itu diperlukan mengingat teknologi yang dipakai di industri smelter dibawa langsung oleh investor negara asal. “Dengan adanya pembangunan industri smelter ini, telah terjadi proses transfer of knowledge melalui pelatihan dan pendampingan oleh tenaga kerja asing kepada tenaga kerja Indonesia (TKI). Misalnya, dalam rangka konstruksi, pemasangan mesin dan peralatan, serta proses produksi,” terangnya.

Menperin juga menegaskan, TKA di industri smelter ini bersifat sementara, terutama hanya saat pembangunan proyek. “Pada masa konstruksi, perbandingannya untuk TKI 60 persen dan TKA 40 persen. Sedangkan, ketika masa produksi, pada tahun pertama untuk TKI 65 persen dan TKA 35 persen,” ungkapnya. Bahkan, pada tahun kelima perusahaan beroperasi, dipastikan porsi TKI menjadi 85 persen dan TKA 15 persen.

Airlangga menyampaikan, beberapa industri smelter telah bekerja sama dengan Kemenperin dan perguruan tinggi melalui program pelatihan dan pendidikan vokasi. “Dari tahun 2015-2017, Pusdiklat Industri Kemenperin telah menyiapkan SDM sektor industri smelter sebanyak 1.200 orang,” ujarnya.

Selain itu, telah memulai pembangunan Politeknik Industri Logam Morowali Berbasis Kompetensi dan Akademi Komunitas Industri Logam Bantaeng, yang keduanya memiliki konsep kurikulum link and match dengan industri. Program Diploma II yang ditawarkan berupa program studi Teknologi Perawatan Mesin, Teknologi Listrik dan Instalasi serta Teknologi Kimia Mineral dengan kapasitas 192 orang per tahun.

“Diharapkan ke depannya, interaksi antara para pelaku industri smelter, tenaga kerja dan pemerintah dapat bersama-sama meningkatkan kontribusi industri pada perekonomian nasional yang pada akhirnya meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia,” paparnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY