Pengembangan Wisata Megalith Terhalang Aturan

0
166
Situs Megalitik Pokekea

POSO RAYA – Ditetapkannya situs Mehalitik Pokekea di desa Hanggira, kecamatan Lore Tengah sebagai salah satu destinasi unggulan Sulteng membuat dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) harus melakukan sejumlah program untuk mendukungnya sehingga mampu mendatangkan wisatawan. Namun upaya itu terkekang aturan.
Salah satu yang menjadi ganjalan dinas Parekraf adalah kewenangan Balai Pelestarian Cagar Budaya yang membawahi Sulteng, Sulut dan Gorontalo sudah menggariskan bahwa setiap upaya pengembangan kawasan megalitik harus berdasarkan peta yang mengatur pembagian zona inti dan zona pengembangan.
“Kita sudah berkoordinasi dengan balai tahun 2015 dan mereka berjanji akan segera memberikan peta zonasi itu, namun sampai sekarang peta itu belum kunjung diberikan,”kata Ester Santo, kepala bidang pengembangan Wisata dinas Parekraf kabupaten Poso.
Karena keterbatan itu pula maka pemda hanya bisa melakukan pembenahan dengan membangun jalan setapak dan shelter disekitar kawasan wisata Pokekea. Balai sendiri menurut Ester juga telah menempatkan satu orang stafnya dilokasi itu untuk melakukan pemeliharaan situs megalitik.
Lembah Besoa sebenarnya bukan hanya memiliki situs Pokekea, dibeberapa desa juga terdapat beberapa patung megalitik seperti patung Tadulako di desa Bariri. Pengembangan pariwisata untuk mengenalkan patung megalitik didataran Lore selain terhadang oleh aturan ini juga disebut karena masih lemahnya promosi. Dalam beberapa kesempatan, bupati Darmin A Sigilipu mengakui kurangnya promosi yang dilakukan.
Agar para wisatawan yang datang memiliki penjelasan mengenai situs Megalit itu, dinas pariwisata lanjut Ester sudah membentuk kelompok Sadar Wisata di desa Hanggira. Mereka ini nantinya selain turut membersihkan situs Pokekea, juga bisa melakukan pengembangan ekonomi dan membuat atraksi budaya dan pemasaran.
Dalam laporannya, majalah National Geographic traveler edisi Juli 2016 menuliskan bahwa patung-patung megalith di lembah Bada dan Besoa ibarat kerlip cahaya pada malam hari. Patung Palindo yang tersenyum seakan mengirim pesan yang masih misterius, mengajak para arkeolog untuk menyingkap sejarah lahir patung-patung ini.(IAN)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY