Film A Long Day, Kisah Persahabatan Pemuda Poso Saat Konflik

0
220
Syuting film A Long Day di Sungai Poso, film ini akan diikutkan dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2017.(foto :Darmawan)

POSO RAYA – Komunitas Kayu Hitam Production Poso, yang berisi kumpulan para pencinta film saat ini tengah memproduksi sebuah film yang berkisah tentang persahabatan antar pemuda yang berbeda keyakinan. Film pendek ini mengambil latar belakang Poso 18 tahun silam, saat kerusuhan terjadi.
Jika Alejandro Inarritu mengambil kedalaman hutan Amazon yang indah untuk memperkaya cerita film Revenant yang memenangkan Oscar, Saifullah Mechta, produser sekaligus sutradara film ini mengeksplorasi keindahan sungai Poso untuk memperlihatkan betapa cantiknya daerah ini.
Sejak terbentuk pada tahun 2000 Komunita Kayu Hitam telah menghasilkan sebuah film berjudul Matahari di Mata Hati. Film ini menjadi semacam kejutan ditengah haru biru cerita tentang kekerasan berbalut isu terorisme di Poso. Alih-alih menceritakan situasi seram, film Matahari di Matahati justru menunjukkan Poso yang adem dan damai dengan segala romantikanya.
Pembuatan film ini juga menunjukkan betapa banyaknya talenta  Poso di dunia sinematorgrafi. Seluruh kru film ini adalah anak-anak Poso yang punya kemampuan dibidang film. Sebagian dari mereka adalah alumni kampus di Jogja, salah satu pusat seni di Indonesia.

A Long Day, bercerita tentang nilai luhur persahabatan yang dilatari konflik dan budaya. Dalam film pendek ini, diceritakan, bagaimana disaat berbagai masalah terjadi persahabatan tak akan pernah pudar.

Pemeran utama Mariono, seorang pemuda asal desa Tampemadoro dan Sahrul, pelajar SMAN 3 Poso mungkin masih asing bagi orang Poso sendiri. Namun kualitas akting mereka tidak perlu diragukan. Saat syuuting, ekspresi keduanya tidak kalah dengan tokoh Hugh Glass dalam film Revenant yang diperankan Leonardo Di Caprio saat menahan sakit akibat luka ditubuhnya setelah bertarung dengan seekor beruang.
Mariono terlihat begitu ekspresif saat adegan harus sembunyi dibawah reruntuhan sebuah rumah atau saat berenang disungai Poso untuk bersembunyi dari kejaran.

Dengan menggunakan alat syuting sederhana, para kru seperti Sirajudin alias Aba Sidora, Safilullah Mechta alias Ipul, Nirwan Latowe alias Iwan dan dibantu Hidayat Yayat yang merupakan pelajar SMK Poso Pesisir, mampu mengeksplorasi keindahan alam Poso, mulai dari sungai, desa hingga objek wisata Saluopa.

Aba mengatakan, film ini dibuat se sederhana mungkin. Semua yang terlibat dari pemeran, kru hingga lokasi film semuanya anak-anak Poso.

“Kami berusaha membuat membuat film ini sebagus mungkin, kami berkarya untuk tanah Poso. Ceritanya pun sebagian kami ambil dari kisah nyata yang terjadi di Poso. Intinya damai itu indah,”kata Sirajudin alias Aba yang juga pernah menjadi pemeran dalam sebuah film lokal Poso.

Sementara Nirwan Latowe mengatakan, apa yang dilakukan oleh komunitas Kayu Hitam Production Poso merupakan sebuah proses dalam berkarya, yang paling penting adalah bagaimana mereka bisa tetap terus menghasilkan karya.

Setelah proses pembuatannya rampung, A Long Day direncanakan akan mengikuti Festival Film Indonesia (FFI), yang rencana akan di putar saat proses Festival Film di ibu kota Jakarta atau Bandung. (RD)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY