Politik Cat Warna

0
257
Gerbang menuju danau Poso yang dulunya berwarna biru kini bersalin menjadi warna kuning (foto :dok)

‘Cerita tentang seorang anak kecil pernah terjatuh dari jembatan yang berlobang saat subuh dan meninggal karena tidak ada penerangan, tidak cukup penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan untuk menunjukkan dukungan’

Oleh : Lian Gogali

Menakjubkan, cenderung menggelikan melihat bagaimana cat warna mengambil alih cara orang mengungkapkan dukungan, dan loyalitas . Cat seharga sekitar 40.000/kaleng ini menjadi simbol siapa yang sedang berkuasa. Semua obyek dalam bentuk bangunan, pakaian, pagar, tugu hingga pohon menjadi galeri pertunjukan kekuasaan baru melalui warna. Kali ini giliran kuning. Dalam soal warna, kenyataan tidak ada pihak independen yang menang, maka warna partai menjadi pilihan simbolnya.

Jika sudah demikian, tidak peduli apakah warna tersebut ketika dipakai sesuai dengan suasana, indah dipandang, menarik , mencerminkan gagasan yang ingin diungkapkan, atau apakah warna tersebut artistik, filosofis. Satu-satunya yang ingin ditonjolkan adalah kekuasaan; siapa yang sedang berkuasa.

Tengok jembatan tua Tentena. Jembatan yang menjadi salah satu ciri khas khas Kota Tentena ini menjadi obyek dan korban yang paling menonjol dalam soal pergantian warna. Siapapun yang mengganti warnanya tidak peduli bahwa warna kuning sangat tidak artistik di bentangan Danau Poso, pun ketika dipotret turis atau pengunjung. Juga tidak peduli mana yang lebih penting, membeli cat untuk mengganti warna jembatan atau membeli lampu kecil untuk menerangi Jembatan tua sepanjang 200 meter. Sudah 10 tahun lebih, tidak ada satu lampu pun menerangi jembatan tua yang menjadi tempat rekreasi, bercengkrama itu. Cerita tentang seorang anak kecil pernah terjatuh dari jembatan yang berlobang saat subuh dan meninggal karena tidak ada penerangan, tidak cukup penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan untuk menunjukkan dukungan.

Sekali lagi, yang ingin diperlihatkan adalah ini yang sedang berkuasa, atau kami mendukung yang sedang berkuasa.

Fenomena ini setidaknya menunjukkan tiga hal. Pertama, penguasa ( siapapun dia ) sangat tidak percaya diri .  Kepercayaan diri diwakilkan melalui warna-warna dominan milik partainya ( baca : partai pimpinan tertinggi ). Warna-warna harus diganti sebagai bentuk pengumuman  “saat ini kami yang sedang berkuasa”. Semua orang, meskipun sudah tahu, harus tahu dan memahami bahwa kekuasaan sudah berganti dari satu partai ke partai yang diwakili warnanya. Jika warna berbeda pada gedung , tiang atau pakaian, komitment mendukung diragukan.

Kedua, warna yang dominan tidak memberikan kesempatan pada keberagaman. Meskipun warna sebuah gedung atau tempat masih sangat bagus, warna harus diubah untuk menunjukkan dominasi.  Demikian juga meskipun warna asli sebuah tempat, ruang atau pakaian lebih enak dipandang dan sesuai dengan suasana, warna itu tersingkir oleh warna dominan. Semua diseragamkan, tidak ada kesempatan untuk berbeda. Padahal, keberagaman adalah ciri khas Poso. Orang-orang memiliki latarbelakang yang berbeda , agama, suku, bahkan berhak memilih partai yang berbeda. Meskipun partai penguasa berganti, tidak semua orang bisa dikontrol untuk menjadi sama warna.  Dominasi yang diekspresikan melalui warna menyingkirkan keberadaan yang lain yang berbeda pendapat, perspektif atau pendekatan.

Ketiga, ekspresi melalui dominasi warna ini menunjukkan dominasi partai yang menyingkirkan  peran masyarakat sebagai pemilik kekuasaan sebenarnya. Padahal, tidak semua orang Poso bergabung dengan partai politik, atau tidak semua punya partai yang sama. Mereka yang diberikan kepercayaan oleh rakyat memimpin , menuntut kesadaran pada dirinya untuk melihat rakyat sebagai subyek bekerja bukan obyek . Penggantian warna gerbang lokasi FDP di Tentena, adalah bukti lain perubahan warna yang membabi-buta ini.

Mungkin saja istilah “agar/asal bapak senang” menjadi alasan lain perubahan warna secara massal di Kabupaten Poso. Sesungguhnya, alasan ini menunjukkan ketakutan yang kekanak-kanakkan untuk tidak disebut loyal jika tidak berwarna sama. Juga kekalutan pikiran terhadap posisi, apakah masih diterima atau tidak melanjutkan. Kalaupun ada alasan “cat warna memang sudah waktunya diganti”, pertanyaannya menjadi ‘haruskah dengan warna itu” . Jika ini diteruskan sulit melihat kecerdasan dibaliknya.

Yang tentu saja tidak pernah dipikirkan adalah beban biaya penggantian cat baru dan warna baru untuk semua obyek terutama di pemerintahan.  Jikapun pemerintah punya biaya penggantian cat, tidaklah terpikirkan bagaimana nasib masyarakat biasa. Mengganti umbul-umbul baru, cat pagar baru, seragam baru, gerbang masuk desa dan sebagainya. Para petani, nelayan, masyarakat biasa yang miskin dan sulit mencari makan setiap harinya harus menyisihkan uang untuk memenuhi selera warna pemimpin baru, dominasi baru. Ibu Mina, seorang warga di desa wilayah Pamona mengatakan “umbu-umbul baru dua tahun lalu saya beli, sekarang sudah harus ganti baru”.

Politik cat warna ini menyusahkan, menyulitkan dan menempatkan masyarakat sebagai obyek kepuasan dominasi baru. Sulit rasanya menyebutkan model pembangunan yang demikian mencerdaskan. Bukankah warna pelangi indah karena beragam? (penulis adalah Direktur Institut Mosintuwu)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY