Merebut Kedaulatan Pangan Jadi Agenda Penting

0
81

POSO RAYA – Memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2016, Solidaritas Perempuan (SP) Sintuwu Raya Poso bersama Kelompok Perempuan desa Kuku dan desa Saojo di Kecamatan Pamona Utara menggelar diskusi bersama.

Evani Hamzah Ketua Badan Eksekutif Komunitas SP Sintuwu Raya Poso mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat inisiatif perempuan dalam melawan penetrasi globalisasi terkait situasi pangan perempuan, dimana saat ini perempuan Poso yang berada di desa Kuku dan desa Saojo ingin merebut kedaulatan perempuan atas panganya.

“Intinya diskusi ini kami gelar, dimana saat ini perempuan Poso yang berada di desa Kuku dan desa Saojo ingin merebut kedaulatan perempuan atas panganya,” ungkapnya, Senin (17/10).

Menurut Eva, pangan merupakan salah satu sumber kehidupan perempuan yang sangat penting untuk mempertahankan keberlangsungan hidup manusia. Akan tetapi selama ini pangan hanya di artikan sebagai sumber komoditas semata, dimana apa yang ditanam oleh petani tak lagi berdasarkan atas kebutuhan petani tentang apa yang akan mereka makan, sehat ataukah tidak sehat apa yang akan di konsumsi, tetapi hanya di dasarkan pada kepentingan pasar.

Diskusi yang digelar disalah satu rumah perempuan petani di desa Kuku ini sangat menarik, sejumlah pertanyaan dan pendapat disampaikan oleh kelompok perempuan yang berada di desa Kuku dan desa Saojo.

Rara Laki salah satu petani yang ikut berdikusi menyampaikan, dimana saat ini perempuan Poso yang berada di desa Kuku dan desa Saojo ingin merebut kedaulatan perempuan atas panganya.

Kata Rara, perempuan Petani di desa kuku dan Saojo juga merasakan hal tersebut. Saat ini, sebagian dari mereka tak lagi dapat memproduksi atau menanam apa yang menjadi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti sayur-sayuran dan padi yang sehat tanpa pestisida. Padahal ketergantungan terhadap pestisida dan pupuk kimia lainnya juga sangat membutuhkan biaya yang besar.

“Saat ini, sebagian dari mereka tak lagi dapat memproduksi atau menanam apa yang menjadi kebutuhan hidup sehari-hari, inilah yang membuat petani wanita merebut kedaulatan perempuan atas panganya,” tegasnya.

Lebih jauh Evani Hamzah menjelaskan, jika beberapa tahun silam, sebagian dari mereka petani perempuan juga telah mengkonversi lahan tani mereka menjadi perkebunan kakao, hal ini terjadi karena adanya program Gernas kakao di Kabupaten Poso. Padahal secara nasional kakao hanya di dasarkan pada kepentingan untuk memenuhi permintaan pasar negara-negara produsen coklat.

Akibatnya, saat  harga coklat anjlok perempuan kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, bahkan yang sebelumnya tidak membeli beras karena dapat memproduksi sendiri akhirnya menjadi pembeli beras. Hal ini akan semakin di per-parah dengan adanya investasi yang mengancam lahan kelolah mereka dan perdagangan bebas yang akan mematikan produk-produk lokal Perempuan di Poso, khususnya Perempuan di desa saojo dan kuku. (RD)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY