Lobo Sudah Hilang dari Poso

0
145
Salah satu Lobo yang masih bertahan di desa Toro, kecamatan Kulawi, kabupaten Sigi.Tempat ini masih digunakan masyarakat untuk melakukan musyawarah besar (Libu Bohe) atau peradilan adat.(foto :mongabay.com)

POSO RAYA – Sebelumnya muncul sejumlah kekhawatiran, salah satu bahasa asli orang Poso yakni bahasa Pamona bakal lenyap digantikan bahasa yang bercampur-campur, antara bahasa Indonesia yang dicampur dengan Manado, Gorontalo bahkan bahasa arab yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun yang sudah pasti hilang dari Poso itu adalah Lobo, rumah adat, tempat dimana dulu orang-orang Poso bermusyawarah untuk memutuskan sesuati.
Jandrichard Tandawuya, salah seorang warga yang memiliki ketertarikan budaya mengatakan, Lobo telah punah dimakan zaman. Dikatakannya, selain menjadi tempat pelaksanaan ritus-ritus adat dan keagamaan pada saat itu, Lobo juga menjadi semacam tempat pengadilan yang memutuskan perkara diantara masyarakat pada waktu itu. Bahkan dulunya Padungku juga dipusatkan di Lobo.
Kebiasaan masyarakat Poso yang telah bergeser semakin modern ditambah setelah adanya bangunan pemerintahan modern di desa berupa kantor desa, membuat Lobo menjadi dilupakan sehingga kemudian tidak ada lagi terlihat di desa-desa di kabupaten Poso.
Jandrichard mengatakan, seharusnya Lobo dipertahankan mengingat masih ada sebagian masyarakat Poso yang memegang kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari mereka, selain itu lembaga adat juga masih menjalankan aktifitasnya meski tidak sekuat dulu ketika KUHP dan UU lain belum ada.
Ketua Dewan Adat kecamatan Lage, Y Mawoja mengatakan, Lobo harus dibangun kembali untuk menjadi pusat aktifitas adat masyarakat. Saat ini semua urusan adat dilakukan di kantor desa atau Baruga. Dia berharap pemerintah bisa memikirkan kembali pembangunan simbol daerah ini. Apalagi keberadaan Lobo akan mampu menggairahkan kembali pariwisata Poso.
David Towengke, arsitek sekaligus pegiat budaya Poso mengatakan, dewan adat kabupaten Poso sejak tahun 2015 telah menyetujui sebuah rancangan bangunan Lobo yang akan diusulkan kepada pemerintah agar dibangun.
“Berbeda dengan bangunan adat daerah lain, Lobo itu ukurannya berbentuk bujur sangkar denganĀ  satu tiang penyangga ditengah. Mengenai kapan dibangun, itu domain pemerintah, saya hanya membantu dewan adat merancangnya,”kata David.(SAM)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY