Meski Ada 4 Perguruan Tinggi, Belum Ada Toko Buku

0
167
Anak-anak antusias membaca buku di desa Leboni kecamatan Pamona Puselemba.(foto :dok perempuanposo)

POSO RAYA – Di era yang semakin terbuka, wilayah yang memiliki sumberdaya manusia paling siaplah yang akan memenangkan persaingan. Untuk memiliki manusia yang berkualitas tentu harus ada sarana pendukung, salah satunya adalah bahan bacaan di perpustakaan. Sayangnya dari 142 desa yang ada di kabupaten Poso, baru sekitar 40 desa yang memiliki perpustakaan, itupun dengan koleksi buku seadanya.
Keengganan desa dalam menyiapkan sumberdaya masyarakatnya, bisa dilihat dari jarangnya ada yang memasukkan usulan pembangunan perpustakaan apalagi pengadaan buku dalam program mereka. Hampir semua lebih melirik pembangunan fisik yang berpotensi mendatangkan keuntungan bagi beberapa orang dalam desa itu secara finansial.
Sri Ratna Mbaresi, dari project Sophia, salah satu program perpustakaan keliling yang dimiliki Institut Mosintuwu menjadi salah satu sosok yang selalu dinanti sejumlah anak-anak di desa-desa yang dikunjunginya dengan membawa ratusan judul buku setiap minggu.
“Anak-anak selalu antusias membaca, sebab di desa mereka jarang ada buku yang bisa mereka baca yang sesuai dengan umur dan menarik mereka,”kata Sri. Bukan hanya anak-anak di desa, di kota Poso sendiri hingga kini belum ada toko buku, padahal ada 2 perguruan tinggi di dalam kota dan 2 di Tentena.
Sejumlah mahasiswa yang ditemui mengatakan, bahkan koleksi buku di Unsimar sendiri terkadang tidak mencukupi untuk mencari referensi tugas kuliah mereka. Terpaksalah mencari di internet meskipun hanya berupa kutipan atau melihat tugas dari mahasiswa perguruan tinggi lain.(RIF)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY