Khawatir Jadi Sasaran Kelompok DPO

0
128
Warga Poso Pesisir Selatan kini berharap kondisi keamanan di wilayah mereka segera pulih agar kembali bisa mengolah kebun yang menjadi tumpuan hidup ketimbang harus menjadi pengumpul batu di sungai yang berpotensi merusak lingkungan.(foto :sofyan)

POSO RAYA – Para petani di beberapa desa yang ada di kecamatan Poso Pesisir Selatan sudah hampir 3 tahun terakhir tidak berani menengok kebun-kebun kakao mereka di gunung sebelah timur kampung setelah pembunuhan 3 warga desa Tangkura 15 Januari 2014 silam oleh kelompok DPO Majelis Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan almarhum Santoso. Akibatnya, seperti yang diungkapkan beberapa warga desa Tangkura, Patiwunga dan Padalembara, penghasilan menurun hingga 60 persen.
“Pilihannya susah pak, kalau kami tidak ke kebun, mau makan apa, mau ke kebun juga ada resikonya, kami serba sulit, , ya terpaksa alih profesi ba kubik batu saja, lebih aman, dapat uang,”kata seorang warga Tangkura yang ditemui Poso Raya, Rabu (14/9) kemarin. Meski aparat keamanan sudah mencabut larangan berkebun kepada warga, namun nyatanya, hanya sebagian kecil yang tetap berani mengurus kebun-kebun kakao yang jaraknya paling dekat sekitar 3 km dari pemukiman.
Seberapa penting kebun kakao warga yang berada dibukit yang diduga menjadi lokasi persembunyian kelompok DPO itu. Beberapa warga Patiwunga misalnya, mengatakan, kebun yang berada di kawasan pegunungan sebelah timur kampung mereka ukurannya lebih luas dengan tanaman kakao dalam satu lahan paling sedikit seribu pohon. Dari hasil panen di kebun inilah warga menumpukkan segala pembiayaan kebutuhan mereka, mulai dari sekolah hingga membangun rumah.
“Ada kebun di dekat rumah, tapi rata-rata kebun yang tidak terlalu luas karena di dalam kampung tanah sudah terbatas,”kata Almin, seorang warga Poso Pesisir Selatan.
Teror yang dialami warga Poso Pesisir bersaudara memang berimbas pada kemampuan ekonomi warga. Bahkan dikhawatirkan akan merubah struktur ekonomi dari petani menjadi buruh atau pengumpul batu. Indikasi ini mulai terlihat dari alih pekerjaan sejumlah petani di desa Maranda sejak awal tahun ini, karena kondisi keamanan di kebun mereka tidak memungkinkan mereka mengolahnya setiap hari.
“Ada yang ke kebun, tapi harus kumpul sampai 20 orang baru pergi sama-sama, pulang sama-sama kalau sudah sore, tapi mau sampai kapan begini, semoga pemerintah cepat atasi kelompok ini,”kata ALsar, warga Poso Pesisir Selatan lainnya yang ditemui, Rabu kemarin.(IAN)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY