Karambanga Musik Pemersatu Orang Poso

0
439
David Towengke, mengajak warga menyanyikan kembali Seselero diiringi irama Karambanga dari gitar Stefan Galela yang lebih dikenal om Hutu.(foto :David Towengke)

Seselero Ode Ara Pindongo Saa, Ane Moyonggumo ropo, Sangkani-Ngkani Peoko Seselero, sepenggal lirik pantun atau Kayori dalam bahasa Poso berjudul Seselero ini menghanyutkan orang pada tahun-tahun lampau sebelum Poso menjadi runyam oleh aksi kekerasan berbau sektarian yang entah dari mana muncul merobek-robek persaudaraan yang terjalin antara orang-orang yang berbeda keyakinan sejak beratus tahun lampau.
Namun ajaib, dibanding pengalaman konflik di beberapa tempat seperti Rwanda di Afrika Tengah atau Sambas di Kalimantan Barat, bahkan Ambon sekalipun, Poso relatif lebih cepat pulih. Kalau Ambon dikenal dengan Pela Gandong sebagai pemersatu, Poso bukan hanya punya semboyan Tuwu Siwagi, Poso punya Karambanga, musik dimainkan dengan gitar diiringi syair-syair mengingatkan rasa persaudaraan, darimana kita berasal.
David Towengke sebenarnya adalah seorang arsitek, namun minatnya pada kebudayaan membuat dirinya mengajak Stefanus Galela atau lebih dikenal om Hutu, seorang seniman Karambanga Poso yang sudah mulai dilupakan untuk tampil kembali dengan gitarnya.
Di lapangan Sintuwu Maroso, Jumat (9/9) lalu, Om Hutu, David Towengke dan sejumlah warga membentuk koor membaitkan Seselero. Ratusan warga yang melintas berhenti, menengok lalu turut bernyanyi, sebagian besar perempuan umur 30-50 an.
“Dapa inga torang dulu, kalau ada acara bakumpul, sama-sama menyanyi, tidak ada persoalan sama sekali, jadi rindu masa-masa dulu,”kata Aryanti, warga Kayamanya yang turut bernyanyi diantara kerumuman.
David menuturkan, Seselero memang salah satu Kayori yang pernah sangat populer di Poso.
“Seselero dan juga Doni Dole itu sebenarnya kata tidak punya makna khusus. seperti kata ungkapan meyebut si’dia’.Ode Pidongo itu artinya aduh kasian, merupakan ungkapan sayang namun sangat puitis dan bermakna dalam, jadi tidak bisa hanya diartikan dari kata per kata,”jelasnya.
Karamba kini memang masih bertahan, sebab siapapun bisa memainkannya, tidak ada sekat religi didalamnya, hanya Kayori yang kadang menasehati, sedikit nakal dan ungkapan sayang atau cinta kepada pujaan hati. Inilah yang membuatnya selalu dinanti dan mampu mempersatukan orang-orang Poso seperti yang terlihat saat om Hutu mengiringi ratusan warga yang mengelilinginya sambil terus menerus mengulang tembang Seselero.(RIF)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY