Ketika Perempuan Memaknai Kemerdekaan

0
155
SEKOLAH PEREMPUAN MOSINTUWU, Memaknai Kemerdekaan dengan Pembebasan Dari Segala Bentuk Penindasan.

POSO RAYA – Merdeka, bukan hanya soal perayaan, panjat pinang, atau lari karung, serta aneka perlombaan olah raga dan seni lainnya. Bagi anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu, memaknai kemerdekaan tidak sekedar itu, tapi mereka yang sebagian besar berdomisili di desa itu, memaknai kemedekaan secara mendalam.
Dan kalaulah kita mencoba mencermati kehidupannya, kata merdeka sangat dekat dengan apa yang mereka rasakan, termasuk apa yang mereka alami sehari-hari. “Kita bisa saja dianggap bebas dari penjajahan kolonial tetapi apakah kehidupan yang dijalani sekarang mencerminkan kemerdekaan ekonomi, kemerdekaan kehidupan sosial dan kebudayaan dan kemerdekaan ekspresi politik yang menghargai kemanusiaan?”, jelas kaum perempuan, dampingan Sekolah Perempuan Mosintuwu.
Hal yang lebih tegas, disampaikan oleh Ibu Herda Dorus (45), dari Desa Bo’e, menurut anggota Sekolah Perempuan angkatan III itu, ciri kita sudah merdeka adalah kalau sudah bisa mengeluarkan pendapat dan tidak mendapat tekanan ketika berpendapat, baik dalam rumah maupun di masyarakat. Tetapi masih banyak yang perempuan yang belum merdeka untuk berkarya di pemerintahan desa, belum ada perempuan memegang peranan.
Karena itu pula, Ibu Erdiana Tanggolu (45), menilai, perempuan masih banyak yang belum merdeka karena masih mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau dilecehkan dalam masyarakat. “Bisa memilih pekerjaan yang diinginkan dan bisa beragama dengan bebas, itu artinya kita sudah merdeka”, kata anggota Sekolah Perempuan Desa Silanca.
Begitulah sekolah perempuan mencoba mencermati dan memaknai kemerdekaan Indonesia yang ke 71 tahun. Mereka menilai, pendidikan adalah kunci utama kemerdekaan seseorang. Sayangnya anak-anak Indonesia, menurut mereka masih banyak yang sulit mendapatkan akses pendidikan. “Coba kita lihat, dalam hal pemberian beasiswa misalnya, terkadang diberikan bukan kepada yang layak mendapat bantuan, di sini kita perlu sistem pendidikan yang jujur dan adil, mulai dari dinas, sekolah, guru, dan semua pemerhati pendidikan”, kata Ibu Karlin dari Desa Dulumai.
Kini Sekolah Perempuan Mosintuwu terus merapatkan barisan dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Bagi mereka kedilan harus diperjuangkan, tidak bisa ditunggu jatuh dari langit. Karena itu mereka pun mengajak kepada semua elemen masyarakat agar bangkit dari setiap gejala yang berpotensi menimbulkan diskriminasi, penindasan, dan segala jenis perlakuan tidak adil lainnya. ***

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY