Biaya Sendiri untuk Beli Seragam Lalu Berubah Warna Karena Lumpur

0
323
Pasukan Pengibar Bendera kecamatan Lore Timur menembus kubangan lumpur untuk menaikkan bendera merah putih pada 17 Agustus 2016.(foto ;fandy)

“Torang biar mengibar so macam di kolam pece tapi semangat macam di istana”(anggota paskibra Lore Timur)
Upacara detik-detik kemerdekaan RI ke-71 memang sudah lewat 9 hari lalu. Namun masih cerita yang mengiringinya belum selesai dibicarakan. Seperti tentang semangat 45 pasukan pengibar bendera (Paskibra) kecamatan Lore Timur, disebelah barat kabupaten Poso yang berbaris tegak mengibas kubangan air berlumpur pekat di lapangan desa Maholo, ibu kota kecamatan.
Pagi 17 Agustus 2016 berbeda dengan hari-hari sebelumnya saat mereka latihan. Paskibra kecamatan Lore Timur sudah rapi sejak dinihari, dengan seragam putih-putih dilengkapi kopiah hitam. Hujan turun malam sebelumnya. Lapangan berumput hijau, sedikit bopeng itu tergenang air saat pasukan membawa bendera ke tiang untuk dikibarkan.
Percikan air bening sisa hujan berubah coklat kehitaman saat hentakan kaki penuh semangat melewatinya. celana dan rok putih pun berubah jadi coklat kehitaman. Namun barisan tetap teguh, melangkah ditengah cipratan lumpur menuju tiang bendera. Ratusan pasang mata memandang kagum sekaligus iba.
“Kasiang kita pe anak, so basa ba pece, tapi kita bangga, dorang tidak peduli dengan pece, yang penting bendera berkibar,”kata seorang perempuan paru baya yang mengikuti upacara pagi itu. Beberapa perempuan lain menangis terharu melihat pemandangan itu. Ya, semangat pelajar Lore Timur tidak kalah dengan mereka yang mengibarkan bendera di istana negara. Kelebihan mereka yang ada di kecamatan adalah mengeluarkan biaya sendiri untuk seragam yang dikenakan.
“Seragam disiapkan sendiri oleh anggota paski, kita tidak punya anggaran untuk itu,”kata Camat Lore Timur, Jerry Gembu. Dia berharap kedepan ada plot anggaran untuk paskibra kecamatan dari kabupaten.
Untuk menghormati semangat paskibra ini, Jerry bersama anggota DPRD Dapil III Yus Ama serta Danramil akan mengajak mereka jalan-jalan ke kota Palu.
Cerita tentang para pengibar bendera di kecamatan memang kerap menimbulkan simpati sekaligus kebanggaan bahwa ditengah minimnya perhatian pemerintah daerah tidak menurunkan semangat berlatih hingga menaikkan bendera merah putih.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY