Sekolah Beratap Rumbia, Berdinding Papan Lapuk

0
117
upacara bendera di sekolah SD Dongi-Dongi desa Sedoa kecamatan Lore Utara.(foto :Mitha Meinansi)

POSO RAYA – Republik Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kehidupan dunia pendidikan kita nampaknya masih cukup memprihatinkan. Di usia kemerdekaan RI ke 71 tahun, tidak istimewa bagi seratusan pelajar di Dongi-Dongi, kawasan taman Nasional Lore Lindu. Disana masih terdapat sekolah menggunakan diding papan berlubang-lubang, beratap rumbia bocor, dan masih berlantai tanah. Bahkan tiang benderanya tak menjulang lurus keatas karena hanya terbuat dari sebatang bambu yang tidak tegak.

Meski dengan suasana yang sangat memprihatinkan, seratus lima puluh siswa, mulai dari tingkat SD hingga SMP di dusun Dongi-Dongi, desa Sedoa,  kecamatan Lore Utara, masih tetap semangat dalam menikmati dunia pendidikan.

Setiap harinya, para siswa-siswi ini belajar seadanya. Mereka hanya mengandalkan buku-buku hasil sumbangan, dengan tenaga pengajar yang tidak berpendidikan tinggi.

Untuk SMP Negeri Dongi-Dongi, guru yang mereka andalkan untuk mengajari mereka ilmu pengetahuan setiap harinya, merupakan sepasang suami isteri yang pendidikannya hanyalah tamatan SMA.

pasangan suami isteri, Sengko dan Heli Deice Mundung, sering kali bergantian untuk memberikan pelajaran kepada  20 orang anak didik mereka. Keduanya melakukan secara sukarela, dengan upah dua ratus ribu perbulan yang diterima setiap tiga bulan sekali.

Sedangkan untuk SD, yang jumlah siswanya sebanyak 130 anak, enam orang tenaga pengajarnya juga hanyalah tamatan SMA.

Heli Deice Mundung,pendiri sekolah, mengaku telah belasan tahun mengabdi tanpa status yang jelas. Bersama suaminya, mereka mendirikan sekolah itu sejak 2003 silam, dengan kondisi yang serba kesulitan. Menurutnya perasaan iba dan keterpanggilan yang harus membuatnya rela berkorban, membagikan ilmu pengetahuannya yang tidak seberapa hebat.

“Karena saya kasihan, melihat anak-anak begitu banyak di Dongi-Dongi ini tidak punya pendidikan. Mereka hanya tinggal dikebun. Seperti itulah. Jadi saya dirikan sekolah dan saya berikan pelajaran pada mereka,” ujar Heli Deice Mundung kepada Poso Raya.

Deice Mundung berharap mendapat perhatian dan bantuan pemerintah, untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang mereka miliki, dengan tujuan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia, khususnya di Poso, agar mereka setara dengan pelajar lainnya. Apalagi diusia Kemerdekaan RI yang saat ini telah mencapai 71 tahun.

Salah seorang siswa disekolah tersebut, juga sempat mengungkapkan keinginanannya yang tentu menyedihkan. Bersama teman-temannya, mereka ingin memiliki sekolah yang bagus dan layak untuk dijadikan tempat menimba ilmu.

Ingin supaya sekolah kita seperti teman-teman di kota. Agar atapnya tidak bocor lagi dan lantainya bukan tanah. Agar dibantu juga dengan buku-buku, agar kami juga bisa belajar,” aku Amar, siswa kelas VI SDN Dongi-Dongi.

Hal lain yang yang juga memprihatinkan, para siswa  sering kali harus belajar diluar kelas, karena jumlah kelas yang tidak mencukupi. Bahkan jika hari sedang hujan, mereka terpaksa diliburkan karena atap sekolah yang mengalami bocor parah.

Danramil LoRe, Kapten Asrar, yang sempat ditemui Poso Raya di wilayah tersebut, mengaku sejak 2014 lalu telah memohonkan bantuan kepada pemerintah daerah. “Sudah dijanjikan tapi sampai sekarang belum ada. Beberapa kali saya tanya dibilang sabar nanti perubahan anggaran. Tapi smpai sekarang juga belum ada,” tandasnya. (MM)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY