Dinas PU Bentuk Kelompok Masyarakat Peduli Sungai

0
172
Salah satu wujud nyata peran aktif masyarakat di tiga Desa di Kecamatan Poso Pesisir Utara yang melakukan gotong royong dalam merawat Daerah Aliran Sungai dan kawasan tebing sungai yang ada (Foto: Rusli Suwandi)

POSO, KOTA – Untuk memelihara keberadaan tebing sungai agar tidak terjadi longsor yang berpotensi mengancam lahan dan pemukiman warga serta sejumlah fasilitas umum, maka diperlukan langkah pemeliharaan kawasan tebing sungai dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Kepala Seksi Pengelolaan Sungai Pantai Dan Rawa Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Poso M. Taufik Runa, ST., M.Si kepada Mercusuar mengatakan, saat ini terdapat sedikitnya 366 sungai di Kabupaten Poso yang kondisi tebing sungainya mengalami kerusakan dan rawan longsor.
“Kalau menunggu penanganan dari pemerintah harus melalui proses yang panjang dengan didukung juga tersedianya anggaran, sementara kerusakan tebing sungai rusak itu penanganannya harus segera dilaksanakan dan tidak bisa menunggu lama. Karena dikhawatirkan kondisinya bisa lebih parah dan membahayakan masyarakat setempat,” jelas M.Taufik Runa sat ditemui Jumat (12/8) kemarin.
Karena itu kata dia, sebagai terobosan awal, Dinas PU melalui Bidang Sumber Daya Air khususnya Seksi Pengelolaan Sungai Pantai dan Rawa berinisiatif membentuk Kelompok Masyarakat Peduli Sungai (KMPS) Mandiri di tiga desa di Kecamatan Poso Pesisir Utara dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Salah satu bentuk kemandirian KMPS mandiri dalam pemeliharaan tebing sungai dan daerah aliran sungai yang ada, adalah dibentuknya KMPS Mandiri di Desa Maranda, Desa Kilo dan Desa Tri Mulya di Kecamatan Poso Pesisir.
“Kelompok masyarakat peduli sungai mandiri Desa Maranda akan melakukan pemeliharaan kawasan tebing di Sungai Samalera. KMPS Mandiri  Desa Kilo melakukan pemeliharaan Sungai Kameasi dan KMPS Mandiri Desa Tri Mulya menjaga dan memelihara kawasan tebing Sungai Kilo. Hal ini sebagai bentuk sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam merawat sarana dan prasarana kawasan tebing yang ada yang  bertumpu  pada  percepatan  pembangunan  di wilayah pedesaan,” lanjut Taufik.
Dia mengakui, pembentukan kelompok masyarakat peduli sungai mandiri ini baru pertama kali dilakukan di Kabupaten Poso. “Ini langkah awal. Dan kelompok yang sudah terbentuk merupakan pelopor. Selanjutnya kelompok ini akan dibentuk di semua desa di Kabupaten Poso. Karena itu kita berharap dengan pembentukan KMPS mandiri ini dapat menjadikan kawasan tebing sungai terlindungi dari ancaman longsor,” ujar Taufik.
Ada beberapa hal menurut Taufik yang juga melatar belakangi pembentukan kelompok masyarakat peduli sungai mandiri ini. Selain karena banyaknya kawasan tebing sungai yang rusak, juga ingin mengajak masyarakat turut bertanggung jawab secara partisipatif dan swadaya untuk menjaga kelangsungan kondisi tebing sungai yang ada. “Karena jika tidak justru masyarakat juga yang nantinya bisa dirugikan,” ungkap Taufik.
Untuk mewujudkan hal itu, pihaknya juga telah bekerja sama dengan sejumlah stake holder diantaranya Dinas Kehutanan dan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Poso dengan melakukan penanaman rumput gajah dan bambu pelindung di sepanjang daerah aliran sungai tersebut.
Taufik menambahkan, strategi pembentukan kelompok masyarakat peduli sungai mandiri berbasis  partisipasi dan swadaya aktif masyarakat ini,  merupakan  salah satu  terobosan  yang  dilakukan  sebagai  wujud dari agen perubahan dirinya yang saat ini tengah menyelesaikan  Pendidikan  dan  Pelatihan  Tingkat IV (Diklat-Pim IV)  yang  diselenggarakan  PKP2A  Lembaga  Administrasi  Negara  (LAN) Makassar.
“Sebagai agen perubahan, kedepan nantinya kita akan berupaya agar pemerintah daerah menerbitkan Surat Keputusan Bupati Tentang Pemeliharaan sungai  berbasis swadaya masyarakat  menjadi program  pemerintah  yang sifatnya berkelanjutan,” kuncinya. ULY

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY