Camat Lorut : Tetap Harus Ditutup

0
135
Ribuan penambang ilegal melakukan aksi protes atas penutupan lokasi penambangan mereka di Dongi-Dongi.(foto :dok Poso Raya)

POSO KOTA – Setelah ditutup secara resmi oleh pemerintah daerah kabupaten Poso pada 26 Maret 2016, tambang emas ilegal di Dongi-Dongi yang masuk dalam kawasan Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) hidup kembali. Ratusan tenda milik penambang ilegal dari luar wilayah ini kembali menggali tanah untuk mencari emas.
Padahal akibat penambangan ilegal ini, dalam catatan BTNLL sekitar 15 hektar lahan disini rusak oleh para penggali yang datang dari Bolaang Mongondow, Kota Mobagu dan Gorontalo.
Salah satu tanda hidupnya kembali aksi liar ini adalah munculnya kembali puluhan warung makan dan minum disekitar lokasi penambangan sisi kiri dan kanan kawasan Dongi-Dongi.
Sebagaimana dilansir kantor berita antara, disebutkan satu karung tanah galian lobang tambang dijual dengan harga 2,5 juta kepada pedagang pengumpul. Agar tidak terlalu menarik perhatian, para penambang liar ini menggali pada malam hari. Aksi ini hidup kembali setelah sepasukan Brimob yang ditempatkan dilokasi ini ditarik kembali. Sejumlah petugas Polhut yang ada dilokasi tidak bisa berbuat banyak karena jumlahnya terbatas.
Bupati Darmin A Sigilipu, saat menutup aktifitas tambang ini bulan Maret lalu mengatakan, penutupan tambang ilegal ini dilakukan karena sudah merusak lingkungan apalagi lokasi ini merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi,”kata Darmin (Poso Raya edisi 27 Maret).
Sementara itu Camat Lore Utara, Yamson Tokare, mengatakan bahwa status lokasi tambang liar Dongi-Dongi tetap ditutup. Dia mengatakan akan segera melaporkan perihal kemunculan penambang itu ke pemerintah kabupaten.
“Yang jelas lokasi tambang itu tetap ditutup,”katanya kepada Poso Raya via telepon selulernya.(SAM)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY