Dinas PU Bentuk Kelompok Irigasi Mandiri

0
180
Salah satu wujud nyata peran aktif masyarakat di Desa Bhakti Agung Kecamatan Poso Pesisir Utara yang melakukan gotong royong dalam merawat jaringan irigasi yang ada (Foto: Rusli Suwandi) Foto: Wakil Bupati Poso Samsuri didampingi Kabid SDA Dinas PU Poso Lindon Lagamu dan Kepala Seksi Irigasi Dedi Fransiskus usai menyerahkan bantuan alat pertanian bagi warga petani Desa Bhakti Agung (Foto: Rusli Suwandi)

UNTUK MEMELIHARA jaringan irigasi yang telah dibangun oleh pemerintah daerah, tentunya memerukan anggaran yang tidak sedikit. Namun mengingat alokasi anggaran yang tidak tersedia dalam APBD, maka Dinas PU Kabupaten Poso dalam hal ini Bidang Sumber Daya Air khususnya Seksi Irigasi membuat sebuah terobosan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dengan membentuk kelompok irigasi mandiri dalam memelihara jaringan irigasi yang sudah ada.
Salah satu bentuk kemandirian kelompok irigasi mandiri dalam pemeliharaan jaringan irigasi yang sudah terbentuk adalah di Desa Bhakti Agung Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso. Kepala Seksi Irigasi Dinas PU Poso Dedi Fransiscus ST,MT mengatakan, program pemeliharaan jaringan irigasi dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat ini sebagai bentuk sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam merawat sarana dan prasarana irigasi desa yang  bertumpu  pada  percepatan  pembangunan  di wilayah pedesaan, utamanya dalam meningkatkan sektor pertanian bagi masyarakat petani setempat.
“Pembentukan kelompok irigasi mandiri ini merupakan sebuah terobosan yang baru pertama kali kita lakukan di Kabupaten Poso. Hal ini mengingat tidak adanya anggaran pemeliharaan irigasi yang dialokasikan dalam APBD Poso. Kita berharap pembentukan kelompok yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat ini bisa menjadikan kualitas bangunan irigasi yang dibangun bisa lebih bertahan lama,” jelas Dedi Fransiscus kepada Mercusuar Selasa (9/8) kemarin.
Ada beberapa hal menurut Dedi yang juga melatar belakangi pembentukan kelompok irigasi mandiri ini. Diantaranya banyak terdapat saluran irigasi yang rusak akibat pemeliharaan irigasi yang tidak optimal. “Hal ini mengakibatkan banyak lahan yang seharusnya sangat potensial untuk diolah akhirnya tidak berfungsi,” papar alumnus peraih Magister Tehnik di salah satu universitas di Makassar ini.
Disamping itu lanjutnya, kepedulian para petani dan rasa memiliki terhadap jaringan irigasi oleh Dedi dinilai masih kurang. Selain itu tidak adanya dana OP bagi pemeliharaan irigasi serta jumlah tenaga OP yang belum memadai, juga menjadi salah satu faktor dibentuknya kelompok irigasi mandiri ini.
“Sebagai langkah awal proyek perubahan, kelompok irigasi mandiri ini kita bentuk di Desa Bhakti Agung Kecamatan Poso Pesisir Utara yaitu yang memiliki Daerah Irigasi (DI) Tambarana Kiri dan mengaliri sedikitnya 40 hektar lahan persawahan. Selanjutnya kelompok ini kan kita bentuk di setiap desa yang memiliki jaringan irigasi,” sambungnya.
Ia juga berharap agar para petani memiliki rasa tanggung jawab terhadap keberadaan irigasi yang ada di desanya. “Kita berharap dengan pola  partisipasi masyarakat ini selain mengajak  masyarakat  untuk  bersama  sama merawat jaringan irigasi yang ada, masyarakat juga merasa dilibatkan dalam  setiap  geliat pembangunan di daerahnya,” papar Dedi Fransiscus.
Dedi menambahkan, strategi pembentukan kelompok irigasi mandiri   berbasis  partisipaso masyarakat ini, merupakan salah satu terobosan yang dilakukan sebagai wujud dari agen perubahan dirinya yang saat ini tengah menyelesaikan Pendidikan dan Pelatihan Tingkat IV (Diklat-Pim IV) yang diselenggarakan PKP2A Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar.
“Pelaksanaan proyek perubahan ini diharapkan dapat menggugah masyarakat terutama para petani sawah agar dapat merubah pola pikirnya untuk tidak selalu tergantung pada uluran tangan pemerintah dan adanya rasa tanggung jawab terhadap jaringan irigasi yang ada, sehingga dapat melaksanakan pemeliharaan jaringan irigasi secara rutin dan berkesinambungan guna menggenjot hasil pertanian yang menjadi tumpuan sebagian besar warga Kabupaten Poso.  Ini juga merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan Diklat-Pim IV yang tengah saya ikuti saat ini,” papar Dedi mengakhiri. ULY

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY