Masalah Yang Masih Tersisa di Pasar Baru

0
175
Tiga pedagang di Pasar Baru (foto :ferdinan)

POSO KOTA–Persoalan pembeli di pasar baru kelurahan Kasintuwu, Poso Selatan, masih tetap sama seperti pertama mereka direlokasi. Beberapa keluhan tersebut merupakan sekelumit persoalan yang di rasakan para pedagang yang berjualan di pasar  baru. “Kita ini orang kecil pak dan tidak berdaya melawan penguasa. Yang kita harap hanya  hati nurani mereka  melihat penghidupan kami. Saya ini sudah 2 hari nangkring  bersama  ayam jualan saya, yang terjadi saya hanya menghabiskan uang ojek, Sementara ayam belum satupun yang di beli warga,”ujar Jafar salah seorang penjual ayam potong.
Masih menurut Jafar, jika ayam potong  itu dalam beberapa  hari tidak laku terjual, maka  akibatnya ayam akan berkurang berat badan dan mengalami berbagai kelemahan fisik karena temperatur suhu udara pada kandangnya  sudah tidak sesuai dengan suhu udara dari tempat pemeliharaan sebelumnya. Mengantisipasi jangan sampai ayam mati percuma terpaksa bersangkutan sering menjualnya  di bawah harga,kepada warung makan. “Kami pedagang ayam selalu berusaha agar jualan selalu yang sehat dijual ke pelanggan. Kalau ayam sudah ada tanda-tanda mengalami  gangguan fisik,maka jalan satu-satunya sebelum mati  percuma,saya menjual kepada warung makan dengan harga di bawah.Pola begini sudah jelas tidak memberikan keuntungan,”papar Jafar dengan muka muram. Keluhan ini  terdengar pula dari pedagang lain  yang sama  profesi.
Pedagang lain pun kurang lebih nasibnya. Ibu Nur misalnya.  Perempuan pedagang makanan itu mengaku sangat berbeda penghasilanya ketika masih berjualan makanan di pasar sentral Poso.“Wah, kalau di sini sangat sepi pak. Sangat berbeda ketika saya masih di pasar sentral. Disini kan  penduduknya jauh, tidak mungkin orang kesini bayar ojek hanya untuk makan.Nasib kami yang berdagang  di sini  kurang lebih sama yaitu kurang pengunjung. Kami sangat berharap pemerintah kita memberi solusi terkait hidup kami  sekarang. Kalau begini terus gimana  mau iayai keluarga dan anak-anak,”ujar Nur.
Mungkin Karena posisi pasar yang jauh dari kota sehingga  warga enggan ke pasar baru. Pendapat ini disampaikan tukang ojek enggan menyebut namanya.“Saya aja ongojek di sini dapat merasakan  sepinya penumpang. Kalau lalu di pasar lama jam begini sudah  Rp. 40.000,-  saya dapat. Ini  baru lima belas ribu,”kata tukang ojek tersebut. Nan

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY