Peremajaan Tanaman Menjadi Kunci

0
131
POSO RAYA - Sebanyak 100 petani dari wilayah Kecamatan Poso Pesisir bersaydara dan Lage, mengikuti Workshop Sertifikasi Kakao yang dilaksanakan oleh perusahaan eksportir Kakao PT. Tanah Mas Celebes Indah di salah satu hotel di Poso, Rabu (27/7). Amiruddin, Manager Area Development Sustainability area Sulawesi Tengah dari Ecom Group kepada Poso Raya mengatakan Workshop itu berupaya untuk mendorong petani Kakao di Poso untuk dapat menghasilkan produksi kakao kering yang di harapkan dapat mencapai 2 ton per 1 hektar luasan tanaman Kakao. Amiruddin berpendapat masih rendahnya produksi mayoritar petani Kakao disebabkan oleh berbagai faktor baik dari segi pendampingan serta tingkat pengetahuan petani dalam mengelola kebun Kakao mereka. “Kami melihat permasalahan yang terjadi di tingkat petani Kakao kita kenapa produksinya masih rendah, saya kira pada masalah pendampingan, serta bahan input yang dilakukan petani itu masih bersifat secara umum” jelasnya “kami sudah membuat formula bahwa ke depan petani petani kita itu tidak lagi menggunakan bahan bahan yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh tanaman Kakao, sepertinya misalnya penggunaan pupuk urea” Dikatakan oleh Amiruddin penggunaan pupuk Urea sebenarnya tidak dibutuhkan oleh tanaman Kakao, yang berdasarkan penelitian, tanaman Kakao mampu menangkap nitrogen dari udara untuk memenuhi kebutuhan yang selama ini dianggap hanya dapat dipenuhi melalui pemupukan urea“Jadi untuk apa di pupuk urea” katanya. Untuk menjadi petani yang sukses, yang dibutuhkan petani kakao itu sendiri adalah tinggihnya jumlah buah dan kualitas dari tanaman Kakao. Untuk mencapai jumlah buah berkualitas dalam jumlah banyak maka setiap tanaman Kakao membutuhkan bahan input berupa Fosfat, Kalium dan unsur unsur mikro. Selain input berupa pemupukan urea yang selain tidak dibutuhkan tanaman Kakao, penggunaan urea dalam waktu yang lama ternyata juga berdampak pada kesuburan lahan yang semakin berkurang, karena selain membuat tanah menjadi masam, urea juga menyebabkan matinya organism di dalam tanah yang berfungsi untuk menjaga kesuburan tanaman. Perlu dilakukan regenerasi Tanaman Hingga kini dari seluruh tanaman Kakao yang dilakukan oleh petani di Poso merupakan tanaman yang cukup lama dan para petani belum menggantinya dengan tanaman baru menggunaan klon unggul baik yang disiapkan oleh Pemerintah maupun oleh pihak Tanah Mas Celebes Indah “Penggunaan bibit unggul ini perlu difokuskan untuk menggantikan tanaman tanaman lama” ungkap Amiruddin. Dikatakannya “Boleh dikatakan 80 hingga 90 persen tanaman Kakao di Poso merupakan tanaman lama, kalaupun yang ada ini dari Gernas Sambung pucuk, mungkin hasilnya juga belum maksimal” Kesuksesan petani Kakao di Poso sangat ditentukan oleh pendampingan secara terus menerus oleh Penyuluh pertanian dan kalangan stake holder lainnya yang berkepentingan bagi upaya peningkatan hasil produksi tanaman Kakao. Dengan formula Farmer Number One Bench Mark setidaknya akan menjadi jawaban bagi para petani untuk mencapai tingkat produksi 2 ton per hektar pertahun asalkan menggunakan bahan input, bahan tanam dan teknologi yang tepat serta pendampingan secara terus menerus kepada para petani di Poso. Selain mensejahterakan petani Kakao yang dilakukan 80 persen penduduk Poso, hal itu juga menjadi dukungan penuh bagi visi pemerintah Kabupaten Poso untuk menjadikan wilayah Poso sebagai kawasan Kakao.(YHL)

POSO KOTA – Sebanyak 100 petani dari wilayah Kecamatan Poso Pesisir bersaydara dan Lage, mengikuti Workshop Sertifikasi Kakao yang dilaksanakan oleh perusahaan eksportir Kakao PT. Tanah Mas Celebes Indah di salah satu hotel di Poso, Rabu (27/7).
Amiruddin, Manager Area Development Sustainability area Sulawesi Tengah dari Ecom Group kepada Poso Raya mengatakan Workshop itu berupaya untuk mendorong petani Kakao di Poso untuk dapat menghasilkan produksi kakao kering yang di harapkan dapat mencapai 2 ton per 1 hektar luasan tanaman Kakao. Amiruddin berpendapat masih rendahnya produksi mayoritar petani Kakao disebabkan oleh berbagai faktor baik dari segi pendampingan serta tingkat pengetahuan petani dalam mengelola kebun Kakao mereka.
“Kami melihat permasalahan yang terjadi di tingkat petani Kakao kita kenapa produksinya masih rendah, saya kira pada masalah pendampingan, serta bahan input yang dilakukan petani itu masih bersifat secara umum” jelasnya “kami sudah membuat formula bahwa ke depan petani petani kita itu tidak lagi menggunakan bahan bahan yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh tanaman Kakao, sepertinya misalnya penggunaan pupuk urea”
Dikatakan oleh Amiruddin penggunaan pupuk Urea sebenarnya tidak dibutuhkan oleh tanaman Kakao, yang berdasarkan penelitian, tanaman Kakao mampu menangkap nitrogen dari udara untuk memenuhi kebutuhan yang selama ini dianggap hanya dapat dipenuhi melalui pemupukan urea“Jadi untuk apa di pupuk urea” katanya.
Untuk menjadi petani yang sukses, yang dibutuhkan petani kakao itu sendiri adalah tinggihnya jumlah buah dan kualitas dari tanaman Kakao. Untuk mencapai jumlah buah berkualitas dalam jumlah banyak maka setiap tanaman Kakao membutuhkan bahan input berupa Fosfat, Kalium dan unsur unsur mikro. Selain input berupa pemupukan urea yang selain tidak dibutuhkan tanaman Kakao, penggunaan urea dalam waktu yang lama ternyata juga berdampak pada kesuburan lahan yang semakin berkurang, karena selain membuat tanah menjadi masam, urea juga menyebabkan matinya organism di dalam tanah yang berfungsi untuk menjaga kesuburan tanaman.
Perlu dilakukan regenerasi Tanaman
Hingga kini dari seluruh tanaman Kakao yang dilakukan oleh petani di Poso merupakan tanaman yang cukup lama dan para petani belum menggantinya dengan tanaman baru menggunaan klon unggul baik yang disiapkan oleh Pemerintah maupun oleh pihak Tanah Mas Celebes Indah “Penggunaan bibit unggul ini perlu difokuskan untuk menggantikan tanaman tanaman lama” ungkap Amiruddin. Dikatakannya “Boleh dikatakan 80 hingga 90 persen tanaman Kakao di Poso merupakan tanaman lama, kalaupun yang ada ini dari Gernas Sambung pucuk, mungkin hasilnya juga belum maksimal”
Kesuksesan petani Kakao di Poso sangat ditentukan oleh pendampingan secara terus menerus oleh Penyuluh pertanian dan kalangan stake holder lainnya yang berkepentingan bagi upaya peningkatan hasil produksi tanaman Kakao.
Dengan formula Farmer Number One Bench Mark setidaknya akan menjadi jawaban bagi para petani untuk mencapai tingkat produksi 2 ton per hektar pertahun asalkan menggunakan bahan input, bahan tanam dan teknologi yang tepat serta pendampingan secara terus menerus kepada para petani di Poso. Selain mensejahterakan petani Kakao yang dilakukan 80 persen penduduk Poso, hal itu juga menjadi dukungan penuh bagi visi pemerintah Kabupaten Poso untuk menjadikan wilayah Poso sebagai kawasan Kakao.(YHL)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY