Danrem dan Bupati Semprot Pemilik Gilingan

0
121
Petani bernama Antonius Amba ini tiba-tiba langsung datang mempertanyakan berasnya yang tidak kunjung laku terjual kepada bupati Darmin A. Sigilipu dan Danrem 132 Tadulako, Kolonel Muhamad Saleh Mustafa diwawancarai oleh wartawan usai kegiatan pertemuan di desa Masamba, Poso Pesisir Jumar (22/7) lalu. (Foto syarif)

MASAMBA – Antonius Amba, seorang petani yang juga pemilik gilingan tiba-tiba datang menghampiri bupati Darmin A. Sigilipu dan Danrem 132 Tadulako, Kolonel Muhamad Saleh Mustafa saat di wawancara oleh para wartawan usai kegiatan pertemuan bersama petani di desa Masamba, Poso Pesisir pada Jum’at (22/7) lalu. Dia menyampaikan keluhannya mengenai stok beras yang beberapa kurun waktu terakhir ini menumpuk di gudang penggilingan padi kerena tidak laku terjual.

Menurutnya para petani tidak akan bisa turun ke sawah apabila beras tidak laku terjual, dikarenakan mereka memerlukan modal untuk turun kembali ke sawahnya seperti untuk memenuhi kebutuhan pembelian pupuk, racun dan kebutuhan lainnya.

“Masalah yang kami hadapi bersama para petani sekarang adalah penjualan beras, jadi jangan harap petani mau turun kalau beras belum laku, ini tidak akan turun karena kami butuh uang tunai untuk turun, terektor adalah bagian terkecil, yang paling besar itu pupuk dan racun nah toh kalo beras kami masih menumpuk, jangan harap mau turun di ini bulan Agustus, tidak akan turun kemungkinan nanti bulan sembilan baru akan turun”ungkap Antonius Amba.

Menurut Antonius, apa yang disampaikannya merupakan masukan dari petani, bahkan ia mengajak Bupati dan Danrem untuk melihat langsung ke gilingan padi miliknya, katanya gilingan yang ia miliki sudah di foto berasnya dan masi ada 20 ton yang tertumpuk, beras itu katanya adalah milik petani.
Mendengar keluhan dari petani ini, Danrem 132 Tdulako, Kolonel Muhamad Saleh Mustafa sontak langsung merespon keluhan petani yang ia dengarkan itu , sehingga mempertanyakan petani ini apakah ia petani atau pekerja gudang gilingan padi dan mempertanyakan mengapa penggilingan menjual ke tengkulak se harga Rp. 8.000, sedangkan menurutnya, bahwa negara dalam menentukan harga itu adalah Rp 7,300, harga itu adalah kebijakan negara yang dituangkan dalam APBN, termasuk didalamnya ada subsidi.

“Dalam agama jangan kita mengeluarkan keringat yang sedikit tetapi kita mengambil hak yang besar”nasehat Kolonel Saleh kepada petani itu. Selanjutnya Dansatgaster ini menegaskan akan memerintahkan Bulog sub divre Poso untuk membeli beras itu setelah dia mengecek terlebih dahulu. Pembelian beras sebagaimana dijelaskan Kolonel Saleh Mustafa merupakan perintah langsung Gubernur dan sudah disiapkan uang sebesar 900 juta untuk membeli beras petani.

Bupati Darmin A Sigilipu, menambahkan bahwa petani ini mendapat subsidi dari pemerintah seperti misalnya pupuk dan bibit, karena sudah mendapatkan subsidi, maka harga beras seharusnya disetarakan dengan harga harapan pemerintah.
“Kecuali petani yang tidak mendapat subsidi pupuk dan bibit, mereka mau jual harga berapa saja boleh, tapi masyarakat yang mau mendapat subsidi paling tidak harus mengikuti pemerintah,” tegas Bupati.(RIF)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY