Santoso, Serta Imaji Lain Tentang Surga dan Kebenaran

0
473
ilustrasi

oleh :Paox Iben

Sejujurnya saya tidak begitu kaget, bahwa disekeliling saya, terutama di Bima, banyak orang yang mengidolakan Santoso, kombatan Poso yang baru saja dihabisi oleh “negara” itu. Oleh sebagian orang, ia dicap, diyakini, sebagai syuhada. Sebab gelar apalagi yang layak disandangkan kepada orang yang dianggap “gugur” karena membela agama? bermacam alasan dan pembenaran dikemukakan untuk itu. Yang sedikit agak konyol adalah…membandingkannya dengan para pejuang zaman dahulu semacam Diponegoro atau Imam bonjol yang dicap “teroris” oleh Penjajah Belanda. Kelak, katanya, jika sejarah sudah berbalik arah, orang-orang seperti Santoso-lah yang akan dianggap sebagai pahlawan.
Benarkah? Mungkin saja, meskipun tentu saja itu bukan dunia yang saya imajikan atau saya harapkan. Bagi saya, pahlawan perang itu ya hanya milik masa lalu. Dunia usang, yang hanya asyik dinikmati sebagai cerita sejarah, fiksi, film, atau game saja. Meskipun sampai saat ini dan entah kapan, perang, konflik, perkelahian berdarah-darah, adalah fakta yang masih dan sedang berlangsung.
Saya sering bertanya-tanya, apakah orang-orang masih mengidolakan pahlawan perang yang berlumuran darah itu karena perang, kekerasan, bunuh-bunuhan sering digambarkan dengan sangat exotis dan bermakna? Imaji itu begitu terpatri dalam alam bawah sadar sehingga membangkitkan ephoria masal dan membentuk spiral kekerasan baru.
Kiri, Tengah, atau kanan, nyatanya sama saja. Anak muda mana dari golongan kiri yang tak mengidolakan Tan Malaka atau Che Guevara dengan seragam dan pet militernya? Bisa saja kita berdebat panjang, beda santoso dengan Tan Malaka atau Kawan Che itu pada aspek tujuan, metode, kecanggihan teori, spektrum perjuangannya dan seterusnya. Tetapi siapa pula yang benar-benar membaca risalahnya dengan sangat teliti mendekati final? Sebab kebanggaan adalah adalah imaji tentang kebanggaan. Bagi sebagian orang yang hampir kehilangan harapan, tidak sabaran dengan keadaan dan tak memiliki imaji lain selain menang-kalah, di dunia biner hitam-putih itu, muaranya seolah hanya pilihan hidup atau mematikan, bertahan atau memusnahkan. Jikapun tidak punya keberanian lebih untuk mewujudkannya, setidaknya memiliki sesuatu yang dijadikan sandaran, diidolakan.
Jikapun saya lebih memilih gaya Gusdur yang berkiprah untuk perdamaian, atau TGH Hasanain Juaini dengan laku ibadah lingkungannya, sejujurnya saya akan menyebutnya sebagai hidayah. Bukan hanya akal sehat dan kewarasan yang membimbingnya, tetapi saya juga bersyukur memiliki imaji lain tentang syurga yang tak harus ditapaki dengan jalan darah dan air mata. Bahwa kebenaran itu tak selamanya tunggal.(Penulis adalah pegiat, Sosial dan Kebudayaan)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY