Semut, Gajah dan Santoso

0
149
Warga yang melintas di desa Tangkura, Poso Pesisir Selatan mendapat pemeriksaan ketat dari aparat gabungan beberapa waktu lalu.(foto :dok yoanes litha)

Saya sungguh mengagumi  kesabaran , ketabahan warga Poso dalam menghadapi dan menjalani semua proses untuk memastikan terwujudnya perdamaian dan keadilan di tanah Poso. Kekuatan yang teruji melalui semua dinamika konflik kekerasan. Salah satunya melalui operasi militer dalam rangka pengejaran kelompok radikal/DPO. Sejak diumumkannya operasi keamanan tahun 2012 , hari-hari hingga tahun-tahun yang dijalani mendesakkan orang-orang kecil perlahan hampir tidak lagi memiliki kehidupan selain bertahan untuk kehidupannya. Di 6  kecamatan, Poso Pesisir Selatan, Poso Pesisir Utara serta Lore Utara Utara, Lore Peore, Lore Tengah dan Lore Timur, kebun dan ladang banyak ditinggalkan, pendidikan dan kesehatan terabaikan, ketidaknyamanan dan rasa takut seperti bayang-bayang di siang hari dan hantu di malam hari, bahkan kehilangan nyawa. Demi berhasilnya operasi militer.

Ibu Tomi dari Desa Tri Mulya, Poso Pesisir Utara menceritakan ketika anaknya terkena penyakit saat itu sedang terjadi baku tembak dengan jarak sangat dekat. Bidan, satu-satunya harapan desa untuk urusan kesehatan warga tidak bisa berkunjung karena larangan agar tidak jadi sasaran salah tembak. Ibu Adi di Desa Tangkura bercerita ibunya dan banyak warga desa lainnya beralih pekerjaan menjadi buruh sawit di kabupaten lain karena tidak bisa lagi berladang dan berkebun. Ibu Citra dan banyak yang lain menjadi pemecah batu di Sungai Puna tidak lagi bisa menengok kebun coklat yang jaraknya sesungguhnya tidak jauh dari desa.  Untuk bisa tetap memanen kelapa di kebun yang jaraknya sangat dekat, ibu Desi harus menyewa lebih banyak orang agar pekerjaan untuk hasil kopra bisa selesai lebih cepat sebelum jam 3 sore , batas waktu berkebun yang ditetapkan dalam operasi militer bagi para petani. Biasanya, pekerjaan kopra itu bisa dilakukan sendiri tanpa membiayai pekerja lain. Hampir tak ada ditemui suasana bercengkrama antar tetangga dan saudara di malam hari karena jam malam berlaku jika mau aman. Anak-anak berulangkali diliburkan dari sekolah. Pernah juga kurang lebih 2 minggu, warga di 6 dusun mengungsi saat dilakukan latihan militer yang juga disebut ditujukan untuk mengejar kelompok radikal. Tentu kawan sudah membaca beberapa warga petani yang bahkan tidak tahu anggaran operasi militer ini bisa menjadi sandera sebelum dibunuh dengan cara kejam.

Dua hari ini, saya merasa seperti mendengarkan cerita orang-orang yang sedang menonton film-film superhero (sebutlah apapun film superhero yang kawan sukai: Batman, Superman, Spiderman, tokoh-tokoh di Avengers, Captain America ). Menontonnya, kita akan mudah tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat. Pertarungan yang seru dengan alat yang canggih, tentu bersamaan dengan strategi yang jitu menjadi bumbu cerita film sejenis itu. Saat pernah menonton, saya pernah bertanya : kalau dua orang dengan kekuatan luar biasa bertemu dan berkelahi, saat mereka berkelahi apa yang terjadi di sekeliling mereka? Rumah dan gedung yang hancur karena kekuatan sinar laser dan senjata canggih adalah hal yang paling  kelihatan. Saya memastikan di rumah, gedung dan halaman yang hancur tak sengaja itu, ada bayi yang sedang tidur, ibu yang sedang memasak, anak-anak sedang bermain bola , orang tua sedang menonton televisi, membaca, mandi dan lainnya ( silahkan daftar kegiatan yang bisa kawan bayangkan). Mereka mungkin saja dokter, arsitektur, guru, petani, nelayan, tukang masak dan sebagainya. Mereka muncul satu detik hampir kurang, karena yang akan jadi fokus kelegaan kita adalah superhero andalan kita bisa menang melawan kejahatan.

Cerita-cerita ibu Tomi, ibu Citra dan lainnya ( nama disamarkan untuk alasan keselamatan ) sesungguhnya tidak ada artinya bagi media apalagi penonton dibandingkan sejarah operasi militer di Poso ( termasuk  sejarah yang ditulis oleh Tito Karnavian, yang pernah bertugas sebagai bagian Satgas di Poso yang kemudian  menulis buku Top Secret Indonesia – Membongkar Konflik Poso, baru saja dilantik menjadi Kapolri ) . Juga, tak dapat dibandingkan dengan cerita spektakuler program operasi militer yang menyertainya. Terdapat operasi Maleo, Maleo 1, Maleo 2 dan Maleo 3, yang dilanjutkan dengan operasi Tinombala yang menyertakan  3000 ( baca : tiga ribu, kawan !) aparat keamanan gabungan TNI dari semua angkatan plus pasukan elitnya dan Kepolisian dengan operasi berbiaya 57 miliar per  tahun ini.  Khusus untuk memburu Santoso, aparat keamanan dibagi dalam 63 tim. Santoso yang rekam jejaknya oleh sebagian kawan di Poso disebut “hanya” pernah terlibat melakukan perampokan bank di Maleali dituntut 1 tahun penjara, ditangani oleh  pasukan yang paling terlatih di Indonesia. Tidaklah kawan membayangkan masih ada Basri juga Ali.Dua orang yang rekam jejaknya lebih panjang, antara lain  perancang dan pelaku mutilasi tiga siswa SMU tahun 2005, penembakan Pendeta Susi di Palu, bom senter di Kawua dan lainnya. Basri bahkan tercatat sempat tertangkap, dipenjara dengan tuntutan 20 tahun penjara dan kabur saat hendak dipindahkan.

Jadi, apakah seperti film superhero lainnya masih akan ada sekuelnya? Lalu, cerita ibu-ibu tadi akan ditambah daftarnya lebih panjang ? Cerita yang sekali lagi dan berkali-kali diabaikan, tak dianggap penting, demi tokoh superhero berakhir indah?

Karena itulah sesungguhnya bagi saya, warga Poso adalah pahlawan atas proses apapun yang memastikan keamanan demi perdamaian dan keadilan di Poso. Tentu, tidak ada kenaikan pangkat dari warga desa menjadi warga istimewa berbintang tujuh yang tidak perlu pusing  berkebun atau mencari ikan, tidakpun  berubah jabatan warga desa-desa di Poso menjadi lebih tinggi setelah operasi ini. Warga Poso akan berusaha menjalani kehidupannya sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya untuk bertahan, sebelum akhirnya hidupnya beradaptasi dengan kebijakan keamanan baru  akan datang.(penulis adalah pendiri Sekolah Perempuan di Poso)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY