Setahun Lebih Terbaring, Penderita Kanker Payudara Harap Bantuan

0
152
Suaeba penderita kanker payudara asal Desa Sakita Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten Morowali (Foto: Darma Kusuma)

MOROWALI, POSO RAYA – Sudah lebih dari setahun, Suaeba (42) seorang wanita asal Desa Sakita Kecamatan Bungku Tengah harus terbaring menahan sakit akibat kanker payudara yang dideritanya. Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, Suaeba kini tak bisa beraktifitas seperti ibu rumah tangga lainnya, untuk duduk pun dirinya merasa pusing.
Dikisahkannya, sekitar dua tahun yang lalu, ada benjolan kecil sejenis bisul di payudara sebelah kirinya, dan ia pun telah berobat ke Puskesmas Bungku Tengah. Namun beberapa minggu kemudian, benjolan tersebut bukannya sembuh, tapi malah bertambah banyak, iapun kembali memeriksakan diri ke Puskesmas yang akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Morowali untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah diperiksa oleh dokter ahli, Suaeba ternyata divonis menderita kanker payudara yang mengharuskan dirinya dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih lengkap fasilitasnya di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Meskipun terdaftar sebagai peserta Jamkesmas, Suaeba terpaksa mengurungkan niatnya untuk berobat lanjut karena memikirkan biaya hidup sehari-hari jika ia dan suaminya harus berada di Makassar. Suaeba dan suaminya pun hanya menjalani pengobatan tradisional selama setahun lebih dan sesekali dibantu perawatan oleh bidan desa setempat.
Menurut suaminya, Kisman, sekitar seminggu yang lalu, Suaeba sempat pingsan karena mengalami pendarahan hebat di payudaranya, dan iapun harus ditandu oleh keluarga dari rumahnya yang jauh terletak di perumahan warga dan mendapatkan pertolongan bidan desa.
Suaeba hanya bisa berharap bantuan dari pemkab agar dirinya secepatnya dioperasi agar dapat kembali menjalankan aktifitas seperti biasanya. “Sudah lebih satu tahun saya terbaring cuma mengandalkan perawatan bidan desa, saya juga sudah dirujuk ke Makassar untuk berobat lanjut, cuma karena tidak ada biaya terpaksa saya tidak berangkat. Biarpun berobat gratis tapi kasian yang jaga saya disana tidak ada yang jamin makanannya,”  ungkap Ibu dari 4 orang anak itu.
Suaminya yang hanya bekerja sebagai kuli pengumpul batu juga hanya bisa berharap uluran tangan dari pihak yang rela meringankan sedikit beban hidupnya. “Saya sangat berharap bantuan dari pemda untuk berobat lanjut. Apalagi saat ini upah saya sewaktu mengumpulkan batu sampai sekarang belum dibayar saat proyek pembuatan bronjong Sungai Sakita,”  tutur Kisman kepada Poso Raya. CR2

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY