Lailatul Qadar, Kemuliaan Ramadhan

0
157
Darwis Waru

Allah SWT menegaskan, al-Qur’an diturunkan dalam malam Qadar, malam yang lebih mulia dari 1.000 bulan. Selanjutnya dilukiskan, di malam tersebut Malaikat dan Roh suci dengan izin Tuhan mereka turun ke bumi, melaksanakan tugas-tugas kesejahteraan sampai fajar. (QS. al-Qadar 1-5).

Oleh : DARWIS WARU
AL-QUR’AN al Karim turun dalam bulan Ramadhan. Malam turunnya dinamakan Lailatul Qadar. Al-Qur’anul Karim yang diturunkan dalam malam Qadar itu menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, tanpa memandang bangsa, suku, etnis, maupun keyakinan beragama, sebagaimana yang dijelaskan Allah yang terjemahannya sebagai berikut “Dalam bulan Ramadhan al-Qur’an diturunkan. Pedoman hidup untuk manusia. Di dalamnya, mengandung pernyataan-pernyataan. Berupa tuntunan dan pembeda kebenaran dari kejahatan. Siapa saja di antara anda melihat bulan, dia haruslah berpuasa” (QS.al-Baqarah: 185).
Karena al-Qur’an menjadi pedoman hidup untuk umat manusia diturunkan dalam bulan Ramadhan, maka bulan ini menjadi bulan yang paling utama dari sebelas bulan yang lalu. Allah menegaskan bahwa, al-Qur’an diturunkan dalam malam Qadar, dan malam Qadar yang berbeda dalam bulan Ramadhan lebih mulia dari 1.000 bulan. Selanjutnya dilukiskan, di malam tersebut Malaikat dan Roh suci, Dengan izin Tuhan mereka turun ke bumi, melaksanakan tugas-tugas kesejahteraan sampai fajar. (QS. al-Qadar 1-5).
Di bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan berpuasa dengan niat ta’abbut kepada Allah SWT, meninggalkan segala keinginan makan minum, keinginan seksual dan segala sesuatu yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Di bulan Ramadhan, manusia dikembalikan kepada kesucian fitrahnya, diarahkan mencapai tujuan dan hakekat hidupnya yang sejati. Allah berfirman; “Tiada kuciptakan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepadaku” (QS, az-Zariat: 56).
Dari sini kita boleh berkata, alangkah bodohnya manusia manakala ia tidak mengetahui tujuan dan hakikat hidupnya. Karena itu, datangnya bulan Ramadhan merupakan dakwah umum kepada semua umat manusia (terutama yang muslim) untuk kembali ke jalan Allah, mematuhi syari’at-Nya, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Bulan Ramadhan adalah bulan agung (mulia) di mana Allah menerima permohonan maaf, doa orang-orang yang meminta.
Inilah bulan persaudaraan dan persamaan, bulan toleransi dan kasih sayang, bulan menegakkan keadilan dan prikemanusiaan, bulan yang merupakan perang frontal terhadap hawa nafsu, kemungkaran, kekejian, dan kemaksiatan, bulan kemakmuran dan pemerataan. Bulan di mana orang-orang besar dan kaya raya merasakan bagaimana nasibnya kaum dhu’apa, penderitaan dan kesusahan mereka. Kemudian dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial dalam mengangkat harkat dan martabat kaum lemah yang dimanifestasikan dalam bentuk membayar zakat harta dan jiwa, guna membantu memberikan pertolongan kepada mereka.
Puasa  Ramadhan mempuyai Fadhilah yang sangat banyak antara lain, mencapai derajat taqwa dan kesempurnaan hidup. Mendidik diri mampu mengendalikan, membimbing dan mengarahkan hawa nafsu pada hal-hal yang baik, terjauh dari lembah kenistaan. Puasa mendidik sifat amanah, adil, terpercaya, dan jiwa pemurah yang meruupakan modal pembangunan yang teramat penting adalah dari masa ke masa terutama menghadapi pembangunan jangka panjang.
Dengan melaksanakan ibadah puasa, berarti kita mendekatkan diri kepada Allah, patuh dan taat kepada-Nya, Dengannya dapat memperkuat iradah, menjernihkan pikiran, dan menguatkan akal. Melatih kesabaran, ketabahan, dan keuletan dalam menghadapi  berbagai ujian dan cobaan hidup. Puasa dapat mempertinggi cita-cita, memperhalus perasaan, memperkuat ketahanan fisik dan mental. Menjauhkan manusia dari kekejian dan kemungkaran serta mendidik umat hidup dalam keteraturan, patuh pada hukum, dan tidak suka berbuat pelanggaran. Dengan berpuasa manusia dididik memiliki jiwa mulia, sifat utama, budi luhur, hidup penuh kasih sayang, serta memiliki rasa prikemanusiaan yang tinggi di mana pun mereka berada.
Karena itu, semoga kita semua menjadi orang sukses dalam berpuasa, sehingga kita bisa keluar sebagai pemenang dalam sebuah peperangan yang maha dahsyat, yakni perang melawan hawa nafsu. Dari sini kita pun teringat dengan sebuah peristiwa sejarah kerasulan. Saat Rasulullah tiba di Madinah kembali dari perang Badar Kubra, di mana tentara Islam di bawah pimpinan Rasulullah Muhammad SAW, meraih kemenangan gemilang. Tak disangka-sangka oleh para sahabat, Rasulullah menegaskan, kita baru saja kembali dari ‘perang kecil’, dan selanjutnya kita akan menghadapi perang besar, yakni  perang melawan hawa nafsu, seperti yang kita pahami dari hadisnya, yang terjemahannya sebagai berikut: “Para teman/sahabat, kita baru kembali dari perang paling kecil, dan sekarang kita menuju ke medan perang yang maha besar, perang melawan hawa nafsu”. (Penulis; Redaktur Senior Poso Raya).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY