Ramadhan, Menyegarkan Kepribadian

0
110
Darwis Waru

Ramadhan adalah fasilitas untuk memantapkan orientasi kehambaan kepada-Nya, sekaligus memperbaiki hubungan sosial. Di sinilah restorasi (penyegaran) kepribadian menemukan momentumnya, demi meraih predikat taqwa.

Oleh : DARWIS WARU
BULAN penuh berkah sedang kita jalani, bersama kita mantapkan kesiapan mental, iman, dan kondisi fisik yang prima, demi memaksimalkan ibadah wajib yaitu puasa, amal ibadah sunnah lainnya seperti shalat tarawih, tadarrus, infaq dan sadaqah serta amal shaleh lainnya. Dalam ramadhan terdapat malam qadar, sebagai pembeda yang haq dan bathil. Dalam berbagai ceramah kita mendapatkan suguhan, bahwa siapa yang berpuasa dan beramal shaleh dalam bulan ramadhan dan mendapatkan malam qadar, maka beruntunglah ia di dunia dan akhirat.
Barang siapa melaksanakan puasa Ramadhan dengan ikhlas dan melengkapinya dengan berbagai amalan yang telah disebutkan di atas, sama halnya ia memasuki proses restorasi (penyegaran kembali) atau pembinaan diri yang pada gilirannya terbenahi aspek-aspek kepribadian yang sangat esensial. Sebagai referensi dalam mencoba melakukan evaluasi  pasca sepuluh hari pertama ramadhan ini, tidak salah kiranya jika kita rehat sejenak, seraya memahami beberapa makna esensial yang terkandung dalam ramadhan,  yaitu,
Pertama, restorasi kesehatan/keseimbangan mental, bukankah Allah menjanjikan ampunan bagi mereka yang tulus berpuasa?. Dan percaya diri dalam melaksanakan puasa diyakini  akan membuat rasa lega, optimis terhadap masa depan, terdorong untuk berbuat lebih baik untuk masa selanjutnya.
Kedua, memperkuat mekanisme pertahanan diri, para pelaku puasa (soimin) dalam bulan ramadhan dituntut kesabaran lebih, tabah, tahan dari berbagai cobaan baik dari luar, maupun yang datang dari dalam diri sendiri. Mekanisme pertahanan diri inilah sejatinya yang diharapkan memelihara seseorang dari berbagai serangan ketika mengalami frustrasi, stress, serbuan masalah-masalah berat/ringan yang tak pernah usai dalam kehidupan, siapapun kita. Hanya mereka yang memiliki pertahanan diri yang kuat Insya Allah akan selalu sehat lahir dan batin, terkhusus kematangan mental spritual.
Ketiga, Disiplin pribadi dan sosial, sebagai pelaku puasa, tentu saja rasa waspada dibutuhkan, untuk menghindar  jangan sampai puasa kita rusak karena berbuka sebelum saatnya, belum berhenti makan sahur padahal telah datang waktu imsyak dan lain-lain. Alangkah indahnya jika kedisiplinan tersebut bisa ditransfer ke dalam rutinitas kita sehari-hari, baik dalam bulan ramadhan apalagi di luar ramadhan, sehingga disiplin nasional akan terwujud.
Keempat, kepedulian terhadap persatuan umat dan penderitaan orang lain. Lewat berbuka puasa secara bersama, tarawih/tadarrus secara bersama, sesungguhnya bisa mengingatkan kembali, betapa pentingnya afiliasi (persatuan) umat, rasa lapar/dahaga mengingatkan kita, betapa menderitanya orang-orang yang ketiadaan makanan, tempat tinggal, misalnya saudara-(i) kita di Palestina sana, dan tempat-tempat lainnya di tanah air. Dari sini, Insya Allah akan terbentuk pribadi nasional.
Kelima, menginstal kembali ingatan dan pikiran (intelektual). Karenanya, mereka yang berpuasa harus tahu betul apakah ia telah berniat untuk puasa, ketika shalat tarawih dia ingat betul ayat yang dibaca (salah atau benar) dan pada rakaat yang ke berapa, ketika berbuka puasa dengan bukaan yang berjenis-jenis apakah cocok dengan kondisi fisiknya, apakah juga ia terbiasa makan tanpa selalu kekenyangan. Karena dalam tinjauan media, kekenyangan bisa berdampak buruk, menimbulkan rasa mengantuk, sehingga kemalasan makin menjad-jadi. Seseorang yang mengantuk, dipastikan ingatan dan pikirannya tak berproses secara normal. Makin sering ingatan dan pikiran digunakan, maka makin kecil kesalahan-kesalahan yang terjadi.
Keenam, Meningkatkan kehangatan hubungan dengan ilahi dan sesama makhluk ciptaan-Nya. Mungkin karena itu, saat ramadhan akan datang, selalu disambut  dengan suasana bermaaf-maafan, menziarahi makam, mendatangi masjid/musholla untuk shalat wajib dan tarawih/tadarrus dan lain-lain. Tengoklah perilaku mereka di luar ramadhan, banyak di antaranya yang makan seenak perut di mana-mana, karena faktor kesibukan, tapi dalam ramadhan suasana indah lebih terasa jika dapat berbuka puasa/makan malam bersama keluarga.
Fenomena ini merupakan indikator, bahwa telah terjadi eskalasi (peningkatan) kehangatan hubungan seseorang dengan pencipta-Nya, sanak keluarga, segenap tetangga, sehingga kebahagiaan betul-betul terasa dalam hidup ini.  Penting digaris bawahi, jika kehangatan sebagaimana digambarkan di atas tidak terasa, mengindikasikan bahwa kita telah terjebak dalam lingkaran setan. Di sini membutuhkan konsultasi pada dokter atau konselor yang paham dalam bidang agama, arif, dan berpengalaman.
Ketujuh, menjaga kesederhanaan, sederhana tidak berarti kumuh, miskin, dan melarat. Tetapi berusaha berada di garis pertengahan adalah sebuah langkah yang bijaksana. Berbuka puasa secara sederhana, berhari raya secara sederhana, dan menyajikan sesuai kebutuhan rasa-rasanya penting bagi kita untuk selalu melakukan refleksi. (Redaktur Senior Poso Raya)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY