Kue Lipat, Sajian Khas Pesta di Poso

0
267
Ibu Dewi, warga desa Pantangolemba, Poso Pesisir Selatan, menunjukkan kue lipat. Ini penanda bahwa akan segera ada pesta yang akan segera digelar di desa.(foto :mitha)

PANTANGOLEMBA- Tipis bentuknya, manis pula rasanya. Saat di gigit, kriuh bunyinya. Terdengar nyaring dalam setiap gigitan. Itulah kue lipat. Ada pula yang menyebutnya kue semprong. Bentuknya seperti sapu tangan yang dilipat menyerupai segi tiga, namun ada juga yang hanya digulung memanjang. Berdasarkan wujud dan cita rasanya, orang Jakarta dan orang Jawa menyebutnya Kue Semprong, sedangkan orang Sumatera menamakannya Kue Sapik.

Di Poso, kue lipat begitu populer. Setiap kali akan ada hajatan, baik pesta kawinan, pesta adat atau pesta Padungku, para ibu-ibu di berbagai wilayah di kabupaten Poso, beramai-ramai membuat sajian makanan ringan yang terbuat dari adonan tepung beras, tepung sagu, kelapa, dan wijen, yang kemudian dicetak di atas kompor atau pemanggang.

Pada Senin (13/6) sore lalu, di rumah Ibu Dewi di desa Pantangolemba, kabupaten Poso, tampak ibu-ibu yang sedang asyik membuat cemilan khas nusantara itu. Mereka saling berbagi tugas. Ada yang membuat adonan, ada yang mencampur adonannya, hingga mencetaknya di atas kompor. Setelah itu pun ada yang membentuk dengan cara melipat adonan yang telah matang. “Ini kue khas orang Poso kalau mau ada pesta,” ujar Dewi.

Pesta? Ya, meski desa Pantangolemba masuk dalam wilayah operasi perburuan kelompok bersenjata di Poso, namun warga desa antusias menyambut acara keluarga yang akan dilangsungkan dalam bulan Juni ini. “Ada pesta pernikahan keponakan kami, ada juga pesta panen bulan depan. Poso aman. Banyak aparat di sini, kami merasa aman,” aku Dewi.

Kue lipat seakan menjadi pertanda. Jika ada kue lipat, artinya akan ada perayaan. Dan setiap perayaan acara yang digelar oleh warga membuktikan bahwa Poso semakin aman dan damai. (MM)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY