Impian Punya Rumah Baru Bakal Terwujud, Catatan Warga yang Dibantu TNI di Poso Pesisir Selatan

0
140
Opster pembangunan rumah wargah

POSO PESISIR – Wajah sumringah Irma jelas terlihat. Ibu satu anak itu duduk santai di samping suaminya Almira, dengan sesekali terlihat senyum malu-malu. Senyumnya memang tak sesegar wajahnya, namun matanya terlihat berbinar bahagia. Mereka merupakan satu dari sekian rumah tangga yang menjadi target bedah rumah dalam Operasi Teritorial TNI di Poso.

Disela-sela pembangunan rumahnya, pasangan suami isteri itu duduk di teras rumah mereka yang sedang direnovasi, oleh beberapa personil TNI yang terlibat dalam Satuan Tugas Operasi Teritorial TNI 2016. Pasangan suami istri Almira dan Irma, mengisahkan kebahagiannya.

Keduanya adalah warga desa Pantangolemba, kabupaten Poso. Setahun belakangan, mereka telah terbiasa melihat banyaknya aparat keamanan beraktivitas di desa mereka. Hal itu dimulai sejak berlangsungnya Operasi Camar Maleo (2015), yang kemudian disusul dengan Operasi Tinombala (2016). Di balik kegiatan tersebut, Irma tak menyangka sama sekali bahwa TNI memiliki tugas pokok, yakni pelaksanaan kegiatan teritorial yang salah satunya mendukung pemerintah dalam membangun masyarakat daerah.

“Saya terharu. Ternyata bapak-bapak TNI ini masih ingat pada masyarakat. Meski mereka bersama Polri sedang melakukan operasi di Gunung Biru. TNI dipimpin Pangdam, juga mesti melakukan Operasi Teritorial, memperbaiki rumah kami yang sudah tua dan tidak layak huni. Sungguh kami berterima kasih kepada Bapak Panglima Kodam atas program Bedah Rumah ini,” ujar Irma.

Penghasilan perempuan asal Morowali yang  tinggal di Pantangolemba sejak menikah dengan Almira sebagai buruh tani, tak memungkinkan mereka untuk memperbaiki rumahnya sendiri, kendati atap rumahnya telah reot. Meksi hanya terbuat dari anyaman daun rumbia, namun tetap saja mereka tak berdaya memperbaiki. Suasana itu membuat hujan dan panas bisa langsung menerobos masuk ke dalam rumah mereka. Hasil jerih payah sebagai  buruh tani tak juga memuaskan.

Bertani merupakan satu-satunya mata pencaharian, sejak mereka tak lagi bisa mengandalkan kebun coklat mereka di kaki Gunung Biru. Alasannya sederhana, yakni karena takut. Memang, sejak lokasi itu disebut sebagai  sarang persembunyian para terduga teroris. Warga memilih enggan berkebun. “Kami jadi takut berkebun,” kata Irma.

Sebelumnya, di rumah pasangan suami isteri itu sedang ramai. Ketika itu mereka sedang melakukan kegiatan menggiling padi, karena baru saja selesai panen. Rumah yang mereka tinggali tergolong paling rapuh di desa itu. Atapnya nyaris roboh. Ditambah lagi dindingnya yang tak kuat melawan angin lembah pada malam hari. Terkesan sungguh memprihatinkan.

Dulu Takut Tentara, Sekarang Bisa Bercanda

Sejak Operasi Camar Maleo, disusul Operasi Tinombala, kehidupan warga desa tersebut mulai berubah. Bertemu aparat keamanan baik Polri maupun TNI, yang tergabung dalam operasi tersebut, menjadi pemandangan sehari-hari.

Meski demikian, seperti umumnya warga masyarakat Poso yang pernah mengalami trauma akibat konflik masa lalu, Almira awalnya sungkan berkomunikasi dengan aparat. “Kalau bapak-bapak TNI menyapa, kami jawab. Tapi kami tidak berani menyapa duluan,” kata Almira.

Kekakuan itu perlahan memudar. Keberadaan personil TNI, termasuk dalam menjalankan Program Ketahanan Pangan mendukung Kementerian Pertanian, membobol tembok tinggi yang terentang antara TNI dan rakyat. Puncaknya, saat Mei lalu, Babinsa dari Kodim 1307 Poso menanyakan kepada pasangan Almira dan Irma, apakah rumahnya mau diperbaiki oleh Tentara atau tidak? “Tentu saja kami bahagia mendapat tawaran itu,” ujar Irma.

Tak berselang lama dari itu, datanglah sekelompok prajurit dari Kodim Poso, yang merupakan satuan bawah dari Korem 132 Tadulako, selaku Satgas Operasi Teritorial TNI AD Sintuwu Maroso 2016, membawa bahan bangunan. Diantaranya pasir, batako, hingga berlapis-lapis seng untuk atap. “Saya seperti bermimpi, melihat bapak-bapak TNI datang untuk memperbaiki rumah kami,” kata ibu dari Farah, bocah berusia delapan tahun itu.

Rasa bahagia, terharu, dan perasaan tak menyangka, bercampur jadi satu. “Kami sungguh berterima kasih kepada pemerintah, bapak Pangdam dan bapak Danrem, atas perhatiannya kepada rakyat Poso, khususnya kami,” urai Almira sambil tertawa lepas. Disampingnya, sang isteri terdengar berbisik lirih, “Ternyata tentara itu baik-baik orangnya. Kita bersyukur kan pak. TNI perhatikan kita,” gumamnya. (MM)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY