Penasehat Spritual

0
130
RONALD MOSIANGI

Modernisme tidak sekedar membawa kemajuan, tapi juga berpotensi membawa kehancuran, di sinilah spritualitas menemukan momentumnya. Dan para politisi pun nampaknya tak mau ketinggalan. Tidak sedikit di antara mereka menggunakan penasehat spritual untuk mewujudkan mimpinya, sekaligus memelihara kewibawaannya.

Oleh : RONALD MOSIANGI
SPRITUALISME kini mulai mendapatkan perhatian. Entah karena kejenuhan menjalani kehidupan yang serba instan, ataukah mungkin karena nilai-nilai moralitas makin terpinggirkan, sehingga apek spritual menjadi pilihan dalam menenangkan jiwa. Adalah Pitirim Sorokin, seorang sosiolog produktif menyebutkan, manusia modern telah jatuh pada mentalitas keindrawian, yaitu cara memandang mengenai benar atau salah, ilmiah atau tidak ilmiah, sah atau tidak sah, resmi atau tidak resmi, dst. Karena itu lanjut Sorokin, manusia akan kembali menunjukkan fenomena baru dalam merespon situasi zaman.
Dan rupanya memang, spritualisme kini menemukan momentumnya. Tidak sedikit politisi melirik penasehat spritual. Bulan lalu, saya berbincang santai dengan seorang kawan tentang spritualitas, beliau yang di mata saya cukup banyak mengecap dunia politik praktis, termasuk memiliki andil dalam memenangkan Bupati dan Wakil Bupati Poso saat ini berujar, “kelihatannya torang pe Bupati ini punya penasehat spritual juga le, soalnya selama masa kampanye, banyak konstituen yang sebelumnya menolak memilih beliau, tiba-tiba balik kanan memilihnya pada hari H”, urai kawan tadi.
Entah bermaksud memberi apresiasi yang tinggi kepada Bupati Poso, Darmin Sigilipu atau memang kawan tadi sedang membangun spritualitas dirinya menjelang ramadhan, nyatanya memang kata penasehat spritual belakangan ini menjadi topik pembicaraan yang menarik. Serupa tapi tak sama, seorang kawan peneliti dari Jakarta juga mengaku penasaran mengamati sepak terjang Basuki Cahya Purnama yang lebih populer dengan Ahok itu.  “Orang kuat di belakang Gubernur Ahok dijuluki 9 Naga, itu mudah diketahui mas Ronald. Tapi mas, saya penasaran siapa penasehat spiritual Ahok ?” katanya. Begitulah kedua kawan tadi terus mewarnai pikiran saya belakangan ini. Apakah Ahok juga nantinya akan memenangkan pertarungan Pilkada DKI sebagaimana yang direbut secara fenomenal oleh seorang Darmin Sigilipu? Hanya waktu juga yang akan menjawabnya.
Sesungguhnya istilah penasehat spiritual menegaskan bahwa di balik karakter kuat seseorang ada orang lain yang bergerak di belakang panggung politik. Mereka inilah yang memberi nasehat untuk meneguhkan, menyemangati, menegur dan memperkuat setiap keputusannya. Penasehat spiritual adalah fenomena baru yang muncul di awal tahun 2000 – an, memperhalus istilah paranormal atau dukun politik. Dalam pengertian ini penasehat spiritual tak ubahnya seperti paranormal, orang pintar atau orang yang dianggap mengerti. Persepsi ini tentu saja tidak serta merta harus  disalahkan. Apalagi media elektronik mempertegasnya melalui acara gossip di layar kaca. Tak perlu heran, jika paranormal banyak dijadikan sandaran utama seorang artis, khususnya ketika mereka diterpa masalah.
Akan tetapi mempersepsikan penasehat spiritual sebagai paranormal tentu saja keliru. Sebab, penasehat spiritual sesungguhnya menunjuk pada kemampuan seseorang dalam memberikan nasehat untuk spiritualitas atau keimanan seseorang kepada agama dan keyakinan yang dianutnya beserta kebenaran – kebenarannya. Melalui penasehat spiritual dapat membawa seseorang menjadi lebih dekat dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Sementara itu, nasehat spiritual bertujuan untuk meningkatkan keimanan tidak hanya untuk orang lain tetapi juga untuk diri si penasehat spiritual itu sendiri. Nasihat spiritual diyakini dapat meningkatkan kepekaan mata bathin seseorang. Dan kepekaan mata bathin itu diperlukan terutama dikala menemukan satu perkara yang sulit untuk memutuskannya atau dikala menghadapi tekanan berat dalam hidupnya.
Begitulah penasehat spiritual dapat membawa seseorang untuk hidup bersandar hanya kepada Tuhan-nya. Dan dalam konteks kuasa penasehat  spiritual dapat membentuk karakter penguasa untuk memimpin dengan hati, bukan dengan tangan besi.  Dan akhirnya penasehat spiritual menjadi sangat berjasa pada seorang pemimpin yang meminta nasehatnya dan bagi orang banyak (rakyat) yang dipimpin karena nasehatnya mendatangkan kebaikan sehingga pemimpin itu semakin dicintai rakyatnya. Jika demikian, maka sosok penasehat  spiritual sejati dan yang “abal-abal” mudah dikenali dan diuji spiritualitasnya melalui karakter seorang yang diberinya nasihat.
Rasanya tidak berlebihan jika kita berkata “penasehat spiritual bukanlah orang biasa, mungkin di antara 100 orang hanya akan ditemukan 1 orang saja, atau tidak sama sekali”. Dalam kepemimpinan Darmin Agustinus Sigilipu yang akan memasuki usia empat bulan, ke depan rakyat dapat menilai apakah beliau telah bertemu dengan sosok penasihat spiritual sejati ataukah penasehat spiritual “abal-abal”, masih terlalu dini untuk menilainya hari ini.
Begitulah perbincangan topik percakapan serius saya dengan seorang kawan malam itu, kamis 26 Mei 2016 silam, berakhir tanpa klimaks. “Tapi sekali lagi, siapakah gerangan penasehat spritual Darmin dan Ahok?”, belum terjawab, sampai akhirnya kami berdua berpisah, meninggalkan teras kantor redaksi Poso Raya, menuju rumah masing-masing di bawah guyuran hujan deras. (Penulis adalah Pegiat Komunitas Gusdurian – Tanah Poso)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY