Cukup Dengan Beko dan Kulit Jagung

0
187
Pemuda Pamona bersiap pergi berburu. (foto :dok. pramaartha pode)

Oleh:DR Pramaartha Pode

“Demikian terjadi, kalau sang perempuan menyukai sang pria, dia akan mengirimkan sehelai tikar yang dianyamnya sendiri kepada sang pria sebagai balas kiriman masakan Beko yang pernah diterima kira-kira empat bulan yang silam. Dengan demikian berati “cinta” telah terbalas”

Di dunia modern saat ini, seringkali kita melihat, mendengar berita tentang seseorang yang sangat ekspresif dalam memberikan sesuatu yang berharga bagi kekasihnya, semisal memberikan berlian, perhiasan, kendaraan atau bahkan rumah. Pemberiannya pun bisa dilakukan secara terang-terangan tanpa melalui perantara atau melalui Orang tua. Dalam dunia yang semakin bergerak maju dan semakin sempit, berita seperti ini sangat mudah kita ketemukan.
Pada masa lalu, tidak seperti itu. Di negara Eropa pertengahan saja misalnya sangat khas menunjukkan rasa cinta melalui puisi-puisi yang dikirim melalui seorang perantara kepada jantung hati. Lalu bagaimana hal ini dilakukan dalam konteks lokal? Kita ambil saja sepenggal kisah dari masyarakat Poso/Pamona pada jaman dulu.

Ketika Pemuda Pamona Menyatakan Cinta
Menurut cerita turun temurun, proses menyatakan cinta bagi seorang Pemuda Pamona dimulai pada saat upacara Molanggo, ini adalah sebuah pesta yang dilakukan untuk memulainya penanaman padi pada sebuah perladangan padi yang di sebut pesta “Molanggo” atau dapat juga diartikan pesta makan nasi baru dari hasil petik (Panen) pertama kali disebuah perladangan.
Dalam pesta Molanggo ini, seorang Pria Pamona dapat memberanikan diri mengirimkan sebungkus masakan yang disebut “Beko” yakni masakan semacam lauk-pauk khusus untuk pesta dan dimasak oleh kaum laki-laki, kepada idaman hatinya.

Adapun jawaban atas kiriman masakan Beko ini, lazimnya baru akan terjawab pada masa penutupan perladangan setelah panen yang disebut “Eua”, artinya suatu jangka waktu orang-orang tidak sibuk diperladangan.

Pada jangka waktu yang disebut “Eua’ itulah, kebanyakan orang-orang perempuan sibuk menganyam tikar-tikar dari daun-daun pandan yang banyak terdapat dihutan wilyah Poso yang disebut “Ira Naso”. Juga anyaman-anyaman tikar itu yang bahan bakunya dari batang-batang rumput yang panjang yang disebut “Tiu”. Banyak tumbuh subur dan melimpah dirawa-rawa pinggiran danau Poso atau sungai.

Demikian terjadi, kalau sang perempuan menyukai sang pria, dia akan mengirimkan sehelai tikar yang dianyamnya sendiri kepada sang pria sebagai balas kiriman masakan Beko yang pernah diterima kira-kira empat bulan yang silam. Dengan demikian berati “cinta” telah terbalas dengan positif.

Selanjutnya hubungan ini disampaikan kepada orang tua masing-masing untuk diketahui. Apabila ada persetujuan kedua bela pihak, maka proses lamaran dapat dilakukan dan terjadilah pernikahan.

Dapatkah Perempuan Lebih Dulu Mengirimkan Sinyal Cinta
Lantas terdapat sebuah pertanyaan, dapatkah seorang Perempuan mengirimkan sinyal cinta terlebih dahulu kepada seorang pria di Pamona pada jaman itu? Jawabannya bisa.

Pada masa itu, kadang-kadang pihak perempuanlah yang terlebih dahulu mengirimkan sinyal cintanya kepada seseorang laki-laki.
Hal ini dilakukan dengan memberikan perhatian lebih kepada seorang Pemuda Pamona yang diam-diam ditaksir dengan menyediakan pembekalan didalam perjalanan, pada saat si pemuda yang berkenan dihati pergi merantau yang disebut “Mowelua”. Pembekalan dalam perjalanan ini berbentuk “daun-daun jagung” yang digunting-gunting sendiri sebagai kertas penggulung tembakau untuk rokok.

Apabila si pemuda ini memang dari dahulunya sudah menaruh hati kepada “si dianya” maka dari daerah perantauan (Ripowelua), pemuda ini akan segera mengirimkan beberapa bungkus gula nira (Gola) sebagai balas perasaan cinta. Kalau ini memang terjadi dapat dipastikan, bahwa hubungan cinta telah terjalin.

Cara Terhormat untuk Menjalin Hubungan Cinta
Bagi kita yang hidup dalam dunia modern saat ini, pola lama dalam menjalin hubungan cinta seperti ini kadangkala mengajarkan kepada kita untuk membangun pola hubungan cinta yang  terhormat yang sesuai dengan tradisi nenek moyang dimasa umur muda. Bukan untuk kembali seperti jaman Siti Nurbaya, tetapi untuk mengembalikan kehormatan itu dalam menjalin Cinta. Tabea.
(Penulis adalah pemerhati sejarah Poso, pendiri komunitas Historia tana Poso)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY