Puasa, Mengetuk Pintu Surga

0
107
Darwis Waru

Puasa sesungguhnya mengajarkan agar manusia yang telah terbiasa dengan kebutuhan fisik, bisa membersihkan jiwanya dengan mengendalikan nafsunya. Di sinilah, kita ditantang untuk membebaskan diri dari dominasi kebutuhan badaniah, sehingga tidak menjadi budak bagi dorongan lahiriah.

Oleh : DARWIS WARU
“TERUSLAH mengetuk pintu surga”, kata Rasulullah kepada yang tersayang, Aisyah RA. “Dengan apa saya mengetuknya yaa Rasulullah?”, jawab Aisyah. Rasulullah pun menjawab singkat, “dengan berlapar-lapar”, kata Rasulullah. Percakapan Nabi dengan istrinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah dan kisahkan kembali oleh Imam Al-Ghazali itu, kini menemukan momentumnya.  Karena itu, melalui bulan ramadhan 1437 H ini, sejatinya kita kembali mengetuk pintu surga sebanyak-banyaknya, semoga pintunya terbuka lebar untuk menerima kita semuanya. Amin.
Kisah di atas mengajak kita untuk memaknai sejauhmana puasa bisa kita laksanakan atas panggilan iman. Sebab, kalaulah kita mencoba memahami dari kacamata inderawi, tentu saja membuka pintu surga dengan berlapar-lapar akan tertolak oleh akal. Sebab bagaimana mungkin menahan makan dan minum pada waktu-waktu tertentu setiap hari bisa mengantar seseorang menuju surga-Nya. Bukanlah surga digambarkan sebagai sesuatu yang menyenangkan? Di sinilah iman itu akan bersuara melalui hati nurani.
Dengan berpuasa sesungguhnya mengajarkan agar manusia yang telah terbiasa dengan kebutuhan fisik bisa membersihkan jiwanya dengan mengendalikan nafsunya. Di sini kita ditantang untuk membebaskan diri dari dominasi kebutuhan badaniah dan tidak menjadi budak bagi keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan lahiriahnya. Dengan demikian, kita mampu menguasai dan mengendalikan diri untuk diarahkan kepada tujuan hidup yang tinggi dan luhur.
Dalam berpuasa, orang menahan diri tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan badan dengan istri/suami sejak terbit fajar sampai matahari terbenam. Ia memiliki makanan tapi ia tidak menyentuhnya; ia bisa saja berhubungan badan dengan suami/istri, tetapi hal itu tidak dilakukannya, secara sadar dan sukarela dengan sengaja berbuat demikian karena ia memenuhi panggilan Allah, Tuhannya. Di dalam kamarnya atau di tempat mana saja ia berada, mungkin tak ada orang mengetahui kalau ia makan atau minum dan sebagainya, tetapi ia tidak melakukan semua itu karena seluruh kesadaran dirinya timbul, bahwa ia adalah dekat dengan Tuhannya atau berkeyakinan bahwa, Tuhan mengetahui perbuatannya itu.
Orang yang berpuasa sadar tentang kehidupannya yang lebih tinggi daripada kehidupan yang terikat dengan makan dan minum, serta kepuasan badaniyah. Kesadaran yang demikian ini merupakan perwujudan suatu kehidupan rohani yang tinggi dipancarkan oleh iman.
Selain dari nilai-nilai moral yang terkandung dalam ajaran puasa itu, maka nilai-nilai sosial yang terkandung dalam ajaran-ajaran itu sangat penting pula. Puasa dalam bulan Ramadhan merupakan gerakan massa yang memupuk rasa kebersamaan dalam hidup ini. Rasa lapar dan dahaga, serta pembatasan atas pemuasan kebutuhan badaniyah dalam berpuasa itu, menjadi merata kepada seluruh umat, baik yang kaya dan sering kekenyangan, maupun yang miskin dan tidak banyak kenyang. Mereka yang hampir tidak menghayati arti kelaparan dalam hidupnya, dengan berpuasa akan timbul simpatinya kepada saudara-saudaranya yang sering bergumul dengan kelaparan dan serba macam keterbatasan yang disebabkan oleh kemiskinan. Jelas bahwa, hal yang sedemikian itu akan mendorong kepada kesadaran sosial yang menuju kepada pemerataan kesejahteraan sosial. Dan kiranya inilah, salah satu yang membuat seseorang bisa masuk surga karena puasa. Dengan demikian, benarlah yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam bahasa iman kepada Aisyah, “ketuklah pintu surga dengan berlapar-lapar”.  Selanjutnya, kita pun mahfum, kalau dalam berpuasa kita senantiasa meningkatkan amal-amal sosial, memperbanyak memberi sedekah, dan memperbanyak segala macam amal kebajikan, sampai pada akhirnya mengeluarkan zakat fitrah di penghujung ramadhan.
Lebih dari itu, puasa memberi kesempatan istirahat kepada alat pencernaan dalam jangka waktu yang cukup lama, mempunyai arti yang besar bagi kesehatan. Dalam hubungan ini dapat dipahami betapa banyak penyakit yang dapat terobati dengan berpuasa. Allah SWT berfirman : “Bulan Ramadhan itu yakni sejumlah hari di mana puasa diwajibkan merupakan bulan di mana al-Qur’an diturunkan sebagai hidayah penuntut bagi manusia dan penjelasan-penjelasan bagi petunjuk serta pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.
Kini, setelah kita memasuki hari yang kelima, rasa-rasanya sudah sangat jelas kemuliaan bulan Ramadhan, maka berbahagialah mereka yang berupaya keras memenuhi sebaik mungkin segala kewajibannya dalam bulan Ramadhan, terutama shalat lima waktu dan berpuasa setiap hari dan meninggalkan segala perbuatan terlarang. Semoga, hari-hari berikutnya, kita senantiasa mendapat rahmat demi mendapatkan surganya kelak. Amin ! (Redaktur Senior Poso Raya).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY