Kini Spritual Menjadi Penting Manusia sesungguhnya terikat dengan fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dalam perjalanannya kemudian, manusia mengalami proses yang menjauhkan dirinya dari fitrah tersebut, seiring dengan tercerabutnya akar spritual dari panggung kehidupan. Kini spritualitas kembali dilirik sebagai solusi untuk mengimbangi perkembangan modernitas.

0
108
Darwis Waru

Oleh : DARWIS WARU
“JIWA sering tidak diketahui oleh manusia pemiliknya”, kata Kahlil Gibran, sastrawan terkemuka ini menekankan, kelengahan manusia terhadap kebutuhannya yang bersifat spritualitas. Wajar, jika jiwa manusia dengan segala keagungan sering tidak dipahami oleh manusia dalam segala segi kehidupannya. Manusia sering lupa memahami siapa dia, untuk apa dia, dan akan ke mana dia pergi. Manusia adalah makhluk yang terikat dengan perjanjian primordialnya, sadar akan kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Namun dalam perjalanan sejarah, manusia mengalami proses yang menjauhkan dirinya dari fitrah tersebut.
Dalam setting historis-sosiologis, tercabutnya akar spritual dari panggung kehidupan manusia, dimulai ketika babak baru dalam sejarah perjalanan peradaban manusia. Para ahli menamai babak ini dengan sebutan modernisme. Modernisme adalah masa ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Penemuan metode ilmiah yang berwatak empiris dan rasional secara menakjubkan membawa kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang luar biasa hebatnya. Modernisme kemudian melahirkan sekulerisme sebagai anak kandungnya. Ini ditandai dengan munculnya semboyan Kaisar Roma, “berikan kepada kaisar akan haknya, dan berikan kepada Tuhan akan haknya”, Dan juga semboyan para ilmuan “ilmu terbebas dari nilai, ilmu untuk ilmu, dan sebagainya”, berawal dari sini timbul pemisahan antara agama dan dunia, yang lebih dikenal dengan sekulerisasi.
Modernisme dengan watak dasarnya sekuler melahirkan corak pemikiran manusia yang bermuara pada rasionalisme, empirisme, dan positivisme. Dengan watak tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa, segala sesuatu yang berada di luar jangkauan indera dan rasio ditolaknya. Pandaangan seperti ini jelas bertolak belakang dengan pandangan orang yang beriman yang berkeyakinan bahwa realitas inderawi merupakan derivasi dari realitas yang lebih tinggi.
Dalam kehidupan modern ini, gejala alienasi (keterasingan) mulai menjangkiti manusia pada lapisan sosial tertentu. Menurut Sayyed Hossein Nasr (1993), alienasi disebabkan karena peradaban modern yang bersumber di barat dibangun dari penolakan (negation) terhadap hakikat rohaniyah dan penyingkiran dalam kehidupan manusia. Dan krisis ini mempunyai asal muasalnya di Barat sejak Renaisance yang selanjutnya pada abad ke-19 menyebar hampir pada seluruh dunia. Sejak zaman renaisance, manusia dipandang sebagai makhluk bebas, yang independen dari Tuhan dan alam. Manusia membebaskan diri dari tatanan ilahiyah (Divine Order), untuk selanjutnya membangun tatanan antropomorphisme, tatanan yang semata-mata berpusat pada manusia. Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri, yang mengakibatkannya terputus dari spiritualitasnya.
Sebagai akibat dari teralienasinya manusia dari kehidupan ini, setidak-tidaknya dapat dilihat tiga faktor. Pertama, manusia teralienasikan dari Tuhannya, yang disebabkan terutama oleh pendewaannya terhadap sains dan tekhnologi, yang nyaris sebagai “pseudo-relegion” sehingga membuat manusia menjadi positivist. Kedua, manusia merasa teralienasi dari lingkungan sosialnya yang diistilahkan oleh Alvin Tofler sebagai “future shock”. Manusia semakin tidak nyaman dengan komunitas sosialnya sebagai akibat dari pola hidup yang semakin materialistik, konsumeristik dan individualistik. Ketiga, manusia yang teralienasi dari Tuhannya dan sekaligus juga dari lingkungan sosialnya.
Persoalan alienasi adalah masalah kejiwaan manusia, manusia berperan sebagai penyebab munculnya alienasi, tetapi sekaligus juga sebagai kurban yang harus menanggung akibatnya. Dalam konteks ajaran Islam, untuk mengatasi keterasingan dalam diri manusia dan sekaligus membebaskannya dari derita alienasi, justru dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhirnya (ultimate goal), karena Tuhan adalah Pesona yang maha hadir (omni-present) dan maha absolut. Segala eksistensi yang relatif akan lebur ke dalam eksistensi yang absolut. Keyakinan dan perasaan akan kemahahadiran Tuhan inilah yang akan memberikan kekuatan, pengendalian, dan sekaligus kedamaian dalam hati seseorang, sehingga yang bersangkutan senantiasa berada dalam orbit Tuhan, yang selalu menjadi pegangan hakiki dalam kehidupannya.
Dalam ajaran Islam, nilai kemanusiaan hanya bisa dipahami ketika semua perilaku lahir dan bathin diorientasikan pada Tuhan, dan pada waktu yang sama juga membawa dampak konkrit terhadap upaya peningkatan nilai kemanusiaan. Pendeknya manusia tidak bisa dipahami tanpa keterikatannya dengan Tuhan dan keterkaitannya dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial. (Redaktur Senior Poso Raya)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY