17 Tahun Masyarakat Rindu Aman, Tokoh Agama Minta Warga Dukung Pemerintah

0
141
Pangdam VII Wirabuana bersama Bupati dan rombongan saat berada di desa Tabalu, Poso Pesisir. (foto ;dok humas pemda Poso)

POSO PESISIR – Sudah sekitar 17 tahun sejak akhir 1998 silam Poso dicap sebagai daerah tidak aman, hingga kini situasinya belum sepenuhnya pulih. Setidaknya seperti yang dirasakan warga yang tinggal dilereng-lereng bukit sekitar wilayah Poso Pesisir bersaudara serta Lore.
Para tokoh agama, seperti Abdul Gani T Israil mengungkapkan masyarakat sudah lama merindukan situasi aman dan damai seperti sebelum tahun-tahun konflik terjadi.
“Sampai hari ini kita belum kondusif, masyrakat mengingingkan kondisi yang aman, tertib sebagaimana sebelum konflik yang lalu,”kata ketua komda Alkhairaat kabupaten Poso ini. Ustad Abdul Gani mengatakan masyarakat sudah tidak ingin lagi ada tindakan teror atau aktifitas kelompok yang mengganggu keamanan.
Hal senada diungkapkan oleh ketua I Majelis Sinode GKST, Pdt Omnes Kambodji mengungkapkan pihaknya mendukung upaya penciptaan keamanan ditengah masyarakat untuk memberikan image diluar bahwa Poso tidak menakutkan sebagaimana dibayangkan orang.

Saat ini kondisi keamanan di kabupaten Poso umumnya normal, hanya saja sebagaimana diketahui pula perburuan manusia terbesar sebagaimana disebut oleh salah seorang penulis terkenal, Linda Cristanti masih berlangsung, yakni pengejaran terhadap Santoso dan anggotanya dengan mengerahkan sekitar 3000 pasukan dari berbagai satuan.
Operasi yang sudah berjalan bertahun-tahun meski berhasil menangkap dan menewaskan belasan anggota kelompok yang menamakan diri Mujahidin Indonesia Timur (MIT) ini seperti masih belum ada tanda akan selesai. Medan luas dan taktik gerilya yang digunakan Santoso dan kawanannya disebut menjadikan operasi masih belum bisa menangkap atau melumpuhkannya.
Operasi pengejaran besar-besaran terhadap Santoso sudah dilakukan sejak 2012 silam pasca pembunuhan 2 anggota Polres Poso, Andi Sappa dan Sudirman. Sejak itu operasi keamanan yang awalnya hanya melibatkan Polisi terus dilakukan dengan pengerahan pasukan BKO dari mabes Polri, namun Santoso dan anggotanya ibarat hantu yang sulit ditemukan. Tahun 2016 kemudian menjadi awal masuknya TNI secara langsung dalam operasi setelah latihan besar-besaran pasukan pemukul reaksi cepat di Poso Pesisir. Meski secara signifikan kekuatan kelompok Santoso berhasil dibuat terpecah-pecah, namun hingga kini para pimpinannya tiga serangkai, Santoso, Basri dan Ali Kalora hingga kini belum juga ditangkap meski disebutkan sudah dalam kondisi lemah.(IAN)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY