Warga Pandayora Melapor ke Polres, Tanaman Dirusak Hanya Disebut Perkara Perdata

0
219
Hasil Tauno (67) warga desa Pandayora, Pamona Selatan, melaporkan pengrusakan tanaman di kebunnya ke Polres Poso. Sebenarnya dia sudah melaporkan perbuatan pidana itu ke Polsek Pamona Selatan, 11 Januari 2016 namun anehnya, oleh penyidik disana kasus ini disebut perdata.(foto :sofyan)

PAMONA SELATAN – Hasil Tauno (67) tidak habis pikir bagaimana bisa tindakan pengrusakan kebunnya di desa Pandayora, Pamona Selatan oleh orang lain disebut sebagai kasus perdata, padahal tindakan pengrusakan jelas-jelas merupakan tindak pidana yang melanggar KUHP.
Pengrusakan kebun milik Hasil Tauno dilakukan oleh warga lain dan dilaporkannya ke Polsek Pamona Puselemba pada 11 Januari 2016. Namun penyidik yang menerima laporan itu menyebut kalau ini bukanlah tindak pidana, namun perkara perdata. Yakin bahwa pernyataan itu salah, Tauno kemudian melaporkan pengrusakan ini ke Polres Poso.
Dalam laporannya, Hasil Tauno mencantumkan 51 pohon sawit dan 30 pohon karetnya dirusak oleh orang lain. Didampingi penasehat hukum, Ricardo Bungkundapu SH, lelaki ini ingin mencari keadilan dan kejelasan hukum atas apa yang dialaminya.
“Saya mencari keadilan, saya pernah mengalami kasus persis seperti ini tahun 2014 silam dan saya dinyatakan bersalah dan dihukum 2 bulan, tapi kenapa sekarang ini disebut perdata, padahal jelas pengrusakan,”kata Tauno. Dia menduga oknum yang merusak kebunnya memiliki kedekatan dengan seorang oknum penegak hukum di Pamona Selatan.
Ricardo Bungkundapu SH, penasehat hukum Hasil Tauno, mengatakan, sangat aneh kalau tindakan pengrusakan terhadap barang disebut perkara perdata. Padahal diterangkan Bungkundapu, dalam pasal 406 KUHP sangat jelas menyebutkan dalam ayat (1) Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
“Tindakan pengrusakan adalah jelas pidana, kita laporkan ke Polres supaya jelas dan ini akan sampai ke pengadilan,”tegas Ricardo Bungkundapu SH kepada Poso Raya.(IAN)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY