Dari Cinta Menuju Cita-Cita

0
143
Darwis Waru

Usia kepemimpinan baru di Tanah Poso, telah melewati titik 100 hari. Belum banyak perubahan yang bisa disaksikan oleh mata kepala. Namun tidak sedikit yang bisa dirasakan oleh mata hati. Atas nama cinta dan cita-cita, kita berharap Duet kepemimpinan Darmin-Samsuri, bisa melewati sejumlah tantangan ke depan untuk mewujudkan sejumlah harapan.

Oleh : DARWIS WARU

“TIDAK gampang menjadi seorang pemimpin”, kutipan kalimat ini tentu tidak semata-mata untuk menghibur Bupati dan Wakil Bupati. Namun, sejatinya dimaksudkan untuk mempertegas bahwa, setiap orang memiliki jalan yang berbeda dalam mencapai puncak kepemimpinan. Dan boleh jadi perjuangan panjang pasangan ini membuat banyak orang berdecak kagum, bukan karena lamanya menjabat, tetapi karena fenomena perjuangannya dalam menghadapi tantangan.
Bayangkan, dengan modal semangat cinta dan cita-cita, keduanya sukses mendulang suara 33 persen lebih, jauh meninggalkan keempat pasangan calon lainnya dalam perhelatan Pilkada, 9 Desember 2015 lalu. Padahal, kalaulah kita mencoba mencermati trend politik saat itu, rasa-rasanya pasangan lainnya tidak kalah populer, bahkan terkesan lebih greget.
Sampai di sini, penulis teringat dengan pertanyaan seorang kawan, enam bulan silam, entah bermaksud menguatkan pilihannya atau mungkin bermaksud menguji, dia berkata “apakah anda melihat fenomena Jokowi pada seorang Darmin?”. Tanpa berpikir panjang saya katakan “Ya,.. betul”. Dia lalu melanjutkan pertanyaan, “mengapa Anda begitu yakin?”, “Karena Pak Darmin Memiliki Cinta dan Cita-cita, buktinya beliau rela menanggalkan kepentingan karir militernya, karena cintanya terhadap tanah asalnya demi mewujudkan sebuah cita-cita, sebagaimana seorang Jokowi rela meninggalkan kursi Gubernur DKI, untuk bertarung memperebutkan kursi RI-1”, begitu kata saya, mengajak mereka bergabung dalam tim pemenangan, ketika itu.
Dan nyatanya memang, pasangan fenomenal ini terus melaju menghadapi tantangan yang tidak ringan, bahkan usai penetapan KPUD pun sebagai pemenang, ujian masih terus menghadang bagi Darmin-Samsuri, sampai akhirnya mendapatkan Surat Keputusan dari Mentri Dalam Negeri, selaku Bupati dan Wakil Bupati definitip, periode 2016-2021, sejak 17 Februari 2016 silam.
Kini Darmin bersama Samsuri telah melewati usia 100 hari kepemimpinannya. Ujian dan tantangan tentu saja belum berakhir. Kalau sebelumnya ujian mengarah pada pribadi kedua sosok itu, kini tantangannya yang dihadapi oleh Darmin-Samsuri lebih berat, yakni mewujudkan visi misinya. Dan di sini pulalah sesungguhnya, cinta dan cita-cita Darmin-Samsuri kembali akan diuji.
Mungkin karena itu, putera kelahiran 9 Agustus 1964 ini merasa perlu mengawali kepemimpinannya dengan memastikan titit tapal batas wilayah Kabupaten Poso dari berbagai arah. Dalam perspektif komunikasi non verbal, Darmin seakan ingin menegaskan kepada seluruh rakyat Tanah Poso, bahwa “inilah negeri yang saya pimpin, tanah tumpah darahku, sebuah hamparan tanah yang luas, memanjang  dari tapal batas Dongi-Dongi sampai Mayoa, melebar dari Tumora sampai Malei Lage.  Di atasnya hidup berbagai etnis dan agama yang berharap untuk hidup damai, adil, dan sejahtera”. Begitulah sejatinya mata hati kita merasakan, bagaimana kedua pemimpin ini berangkat dari cinta, untuk mewujudkan cita-cita. Meski harus diakui bahwa perubahan yang bisa disaksikan dengan mata kepala, masih membutuhkan waktu yang panjang, seiring dengan masa jabatannya lima tahun ke depan.
Begitulah Darmin-Samsuri melakoni kepemimpinannya di saat situasi dan kondisi keamanan Poso masih diperhadapkan dengan gangguan keamanan. Sudah begitu, mereka berdua pun harus menanggung beban masa lalu.  Ironisnya, di saat keduanya berani mengambil sikap, muncul pula sinyalemen dari sejumlah kalangan, bahwa ayah dua orang anak ini telah terjebak dengan skenario pemerintahan lama.
Padahal, kalaulah kita sedikit mencoba berpikir realistis, boleh jadi kita akan sepakat,  bahwa dalam kondisi darurat memang selalu muncul seorang pemimpin yang tegar mengambil resiko. Dan karakter seperti itu telah dibuktikan oleh Darmin bersama Samsuri, saat menghadapi amukan massa di wilayah tambang Dongi-Dongi, dan kegaduhan pedagang saat pengosongan pasar sentral Poso. Tentu saja kehadirannya di tengah-tengah massa tidak bermaksud menafikan suara pedagang yang menolak pindah. Sebaliknya memberi sinyal bahwa, sebagai seorang pemimpin suka atau tidak suka, dia harus menanggung resiko politik yang tidak populis, demi mencegah pertikain antara pedagang yang memilih pindah dan menolak pindah.
Bukankah dengan keberanian mengambil resiko, menunjukkan bahwa kedua sosok pemimpin itu, sesungguhnya menitip pesan kepada kita, bahwa menjadi pemimpin memang tidak gampang. Karena itu, sebagai rakyat kebanyakan tentu saja kita memiliki hak untuk berpendapat, tapi tidak berarti harus menghalangi kebijakan pemerintah, sepanjang mekanisme demokrasi telah dilalui sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku. Akhirnya, penulis mengajak kepada segenap pembaca untuk bersama-sama mengawal kepemimpinan baru menuju tatanan pemerintahan yang profesional, dengan memberi kritik yang konstruktif, rasional, dan proporsional. Kepada Bupati dan Wakil Bupati, Darmin-Samsuri, kita mengiringi pengabdian selanjutnya dengan harapan, semoga perubahan akan terasa secara bertahap dalam waktu dekat. Amin !(Redaktur Senior Poso Raya).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY