Dari Pornografi ke Pornoaksi

0
212
RONALD MOSIANGI

Pornoaksi tidak bisa dipisahkan dengan pornografi. Dalam banyak kasus keduanya terlihat  saling terkait. Ironisnya, porno aksi tidak hanya digemari oleh kaum remaja, tapi juga tidak sedikit orang dewasa ikut menikmatinya. Karena itu, dibutuhkan evaluasi menyeluruh untuk menyelamatkan anak bangsa dari serbuan pornografi dan pornoaksi.

Oleh : RONALD MOSIANGI

MASIH segar dalam ingatan, sebuah kasus video porno berdurasi 4 menit diperankan oleh siswa salah satu SMA di Poso Pesisir selatan. Seorang siswi kelas XII dan siswa kelas XI disaksikan beberapa siswa lainnya, nekad memamerkan porno aksinya. Sebelumnya, kita juga dikagetkan dengan sebuah kasus (tidak terpublikasi) foto – foto setengah telanjang seorang siswi SMP dari salah satu sekolah di Poso kota.
Belakangan ini penulis menerima beberapa pengaduan dari simpul – simpul di desa yang meminta pendampingan atas kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan yang menimpa anak – anak di bawah umur. Umumnya kasus tersebut telah ditangani pihak berwajib, namun penanganannya lamban, sehingga keluarga korban minta didampingi.
Sejumlah kasus lain antri untuk mendapatkan penanganan, namun pihak keluarga enggan melaporkan kepada pihak yang berwajib. Penulis yang diminta untuk menghubungkan pihak yang mengadu dengan Ornop yang concern terhadap masalah kekerasan perempuan pun nyaris tak bisa berbuat banyak. Belum lagi sejumlah fakta di lapangan mengindikasikan anak-anak  usia 9 tahun secara leluasa mengakses video porno dari internet di sebuah warnet. Dan tentu saja masih banyak kasus – kasus porno aksi di sekitar kita yang jauh dari pemberitaan dan penanganan hukum.
Pemberitaan Poso Raya beberapa waktu lalu menyebutkan, kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat, bahkan di media nasional menyebutkan Indonesia darurat kekerasan seksual anak. Bagi saya hal itu benar adanya sebab faktanya memang demikian.
Dengan mengamati fenomena di atas, kita pun bertanya karenanya, apa yang membuat pelajar begitu berani mempertontonkan video porno dirinya untuk di “nikmati” khalayak ramai?. Bagaimana mungkin anak 9 tahun usia SD sudah gemar dan mudah saja mengakses situs – situs porno. Apa yang terlintas di benak pelaku kejahatan seksual saat melakukan aksinya. Paling tidak inilah serangkaian pertanyaan di benak, menyaksikan fenomena maraknya porno aksi dan kekerasan seksual.
Di tengah upaya pemerintah melalui P2TP2A, Ornop yang concern membela hak-hak perempuan, pendeta dan Uztad yang kental dengan siraman-siraman rohani, tetap saja membuat porno aksi dan kekerasan seksual seakan tidak bisa terbendung. Hemat saya, salah satu faktor yang sangat menentukan dan mempengaruhi hasrat seseorang, termasuk anak dibawah umur melakukan porno aksi dan kekerasan seksual adalah pornografi.
Pornografi dalam pengertian menurut undang – undang pornografi nomor 44 tahun 2008 adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Pasal – pasal selanjutnya dalam undang – undang tersebut memuat tentang bentuk – bentuk pornografi, peran perlindungan anak dari bahaya pornografi diberikan kepada pemerintah dan masyarakat. Larangan – larangan tersebut disertai dengan sanksi pidata paling rendah 6 bulan dan paling lama 10 tahun sesuai pasal yang dilanggar.
Upaya perlindungan atas bahaya pornografi sudah sedemikian rupa diatur dengan perangkat undang – undang. Namun kenyataannya, pornografi tetap saja sulit untuk dibendung, orang dewasa pun sampai anak – anak kelihatannya sangat menggemarinya.
Dari pornografi berlanjut pada porno aksi. Coba kita bangun logika sederhana seperti ini, dari melihat video porno maka siswa siswi SMU tergerak untuk bermain peran yang sama seperti yang ditontonnya. Dari melihat gambar porno maka siswi SMP berani untuk membuat pose yang sama. Begitu pun yang memicu pelaku kejahatan seksual dalam melakukan aksinya, karena didorong oleh  hasrat setelah menonton video atau gambar porno. Dan anak SD usia 9 tahun terdorong keingintahuannya lebih jauh setelah satu kali menyaksikan hal berbau pornografi lalu memburunya di warnet / internet.
Pornografi memang tidak boleh dipandang hanya sebagai hiburan belaka yang dapat pengusir lelah atau sebagai usaha belajar guna menjaga keharmonisan rumah tangga, sebagaimana alasan pembenaran yang biasanya disampaikan orang dewasa. Tetapi pornografi seharusnya dijadikan musuh bersama sehingga setiap orang mau memeranginya. Dan setiap orang itu adalah KITA yaitu setiap individu, orang tua, stakeholders, masyarakat luas dan pemerintah. Harapan kita bersama, semoga di waktu kedepan angka porno aksi dan kekerasan seksual tidak semakin meningkat di daerah kita bahkan tidak akan terjadi lagi. Untuk mewujudkan itu masih perlu kerja keras dari KITA semua. (Pegiat Komunitas Gusdurian Tana Poso)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY