Sejarah Ibadah Puasa

0
112
Darwis Waru

Sepekan lagi ramadhan akan datang kembali, tepatnya tanggal 6/7 Juni 2016. Bulan yang diyakini memiliki keutamaan itu, diwajibkan kepada kaum Muslimin, laki-laki yang telah baligh dan perempuan yang tidak berhalangan untuk berpuasa, Bagaimana sebenarnya sejarah pelaksanaan puasa?

Oleh : DARWIS WARU
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS. al-Baqarah: 183). Ayat ini berisi perintah Allah SWT, kepada kaum Muslimin umat Nabi Muhammad SAW, untuk berpuasa, sebagaimana umat terdahulu. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa, ibadah puasa sesungguhnya telah ada sejak dulu, sebelum umat Nabi Muhammad SAW. Pertanyaannya. Siapakah yang dimaksud umat terdahulu itu?
Begitulah pertanyaan yang patut kita kedepankan dalam memahami sejarah puasa, sebagaimana menjadi kewajiban kita selaku umat Islam. Sebuah pendapat mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan umat-umat terdahulu adalah Nabi Adam sampai dengan umat yang sekarang. Pendapat ini didasarkan pada riwayat Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda; “puasa Ramadhan diwajibkan oleh Allah Ta’ala kepada umat-umat sebelum kamu”, diriwayatkan bahwa pendapat ini dari Qatadah dan Hasan Al-Bashri.
Pendapat kedua mengatakan, umat-umat terdahulu itu adalah ahli kitab yakni Yahudi dan Nashrani. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid  dan Ibnu Abbas. Ada pun pendapat yang ketiga, diriwayatkan dari Sya’bi, yang mengatakan bahwa umat-umat terdahulu hanyalah kaum Nashrani. Pertanyaan kita selanjutnya adalah, kapan waktu-waktu puasanya umat terdahulu itu? Sebagaimana pertanyaan tentang umat terdahulu dalam hal waktu berpuasa juga terdapat berbagai pendapat. Pertama, datang dari Hasan Al-Bashri dan As Suddi, menurutnya, puasa yang diwajibkan kepada mereka itu adalah sebulan penuh, pendapat ini didasarkan pada hadis Ibnu Umar, bahwa nabi pernah bersabda; puasa ramadhan diwajibkan oleh Allah SWT, umat-umat sebelum kamu.
Ada pun pendapat kedua,  Ibnu Abbas dan Atho’bin Abi Rabah berpendapat bahwa, mereka itu tiga hari dalam setiap bulan. Pendapat ini didasarkan pada riwayat Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah SAW datang ke Madinah, beliau berpuasa Asy-Syura dan tiga hari dalam setiap bulan, kemudian Allah Ta’ala menurunkan kewajiban puasa bulan Ramadhan.
Islam mewajibkan puasa ramadhan sebagai rukun Islam yang keempat, diwajibkan kepada orang Islam yang sudah baligh dan berakal dengan cara tertentu. Turunnya perintah puasa Ramadhan adalah pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah. Menurut ijma’ para ulama, Rasulullah SAW melaksanakan puasa Ramadhan sembilan kali, delapan kali puasanya 29 hari/bulan, dan satu kali 30 hari. (KH.Hasan Basri, Nasehat Para Ulama, 2001).
Dalam beberapa literatur, diketahui pada mulanya puasa itu dimulai setelah shalat Isya atau setelah tidur sampai terbenamnya matahari. Puasa seperti ini sangat berat bagi kaum muslimin. Kemudian Allah SWT, meringankan dengan dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, yang kemudian hal ini menjadi ketetapan. Adapun sebab peringanan dari Allah tersebut adalah seperti dalam kasus Umar Ibnu Khattab yang menggauli istrinya pada malam Ramadhan, lalu ia menyampaikan kepada Nabi, kemudian turunlah ayat “dihalalkan bagi kamu pada malam hari  untuk menggauli istri-istrimu”.
Selanjutnya, diriwayatkan pula bahwa seorang lelaki Anshar bekerja dalam keadaan puasa sampai sore hari, kemudian dia meminta makan kepada istrinya, lalu dia shalat Isya dan tidur sebelum makan dan minum, sehingga pagi dalam keadaan puasa. Nabi melihat dia dalam keadaan sangat lelah dan letih, maka beliau berkata: Kenapa kulihat kamu dalam keadaan lelah dan letih? Dia berkata: “Ya Rasulullah, saya dalam keadaan puasa, maka saya datang bagaimana biasa, lalu saya merebahkan badan dan tertidur sampai pagi, di pagi hari saya melaksanakan puasa….” Itulah asbabun al-nuzul al-Baqarah ayat 187, yang artinya : “Dibolehkan kepadamu di dalam puasa campur dengan istrimu. Mereka adalah pakaianmu dan kamu adalah pakaian mereka”.
Demikianlah sejarah awal mula pelaksanaan puasa sampai pada puasa kita seperti sekarang ini, saat di mana kita diwajibkan menahan diri dari makan, minum dan jima’ sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Semoga sejarah pelaksanaan puasa ini menjadi inspirasi tersendiri bagi kita, untuk memahami begitu pentingya pelaksanaan puasa, dalam upaya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Selamat menyongsong Bulan Ramadhan, bulan rahmat, maghfirah, dan Isnya Allah menjadi pembebas dari api neraka. Amin ! (Redaktur Senior Poso Raya)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY