Staf Badan Penyuluh Bantah Menerima 3 Juta Dana Gapoktan untuk Administrasi

0
98
kantor Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan kabupaten Poso

POSO KOTA – Sebanyak 14 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang tersebar di Kabupaten Poso masing-masing telah menerima dana simpan pinjam sebesar 100 juta per kelompok, jika ditotal nilainya sebesar 2,4 miliar. Dana ini dicairkan dalam dua tahap ke rekening kelompok.
Tahap pertama cair pada Januari dan tahap kedua pada Maret 2016. Dana Gapoktan yang melalui Badan Katahan Pangan dan Penyuluh Kabupaten Poso itu, di kelola oleh staf di SKPD itu.

Namun sejumlah anggota Gappktan yang ditemui mengatakan dari 100 juta dana yang mereka terima, sebanyak 3 juta disetor ke Badan Katahanan Pangan guna keperluan adminisatrasi untuk 3 orang pengurus. Ketua Gapoktan Dolindaya Desa Pandiri, Kecamatan Lage, O Latonce, yang ditemui media ini mengakui memberikan uang sebesar 3 juta guna keperluan adminitrasi kantor Dinas Ketahanan Pangan Poso yang diserahkan kepada Hefar. Namun menurut Latonce pemberian tersebut merupakan sukarela dan ucapan terima kasih.

“Iya, 3 juta kepada 3 orang pengurus di Katahanan Pangan, katanya untuk administrasi 3 orang pengurus, namun itu bukanlah paksaan tapi sukarela,” ujar Latonce, Kamis (26/5) kemarin.
Selain itu menurut Latonce, sia dana lainnya telah dibelanjakan untuk keperluan 11 Kelompok di Desa Pandiri yang tergabung dalam Gapoktan, yakni 1 ekor babi per satu anggota Kelompok tani untuk 10 Kelompok tani, sementara 1 kelompok tani dibelanjkan 4 botol obat racun cair dan perangsang tanaman cair per satu anggota.
Bukan hanya Gapoktan di Pandiri, pengurus di desa Kuku, kecamatan Pamona Utara juga mengungkapkan hal senada, menyerahkan administrasi sebesar 3 juta untuk staf kantor Badan Penyuluh yang sama. Alasan pemberian pun sama, yakni sukarela
Namun menariknya, jika diambil contoh 2 Gapoktan itu, nilai pemberian sukarelanya sama, yakni 3 juta rupiah, kedua pengurus Gapoktan yang ditemui terpisah ini mengatakan tidak mengetahui pasti jika itu sama nilainya.

Dikonfirmasi terpisah, Sriwahyuni, salah seorang staf yang disebut menerima pemberian sukarela dari Gapoktan merasa heran dan tidak mengtahui adanya pemberian uang sejumlah 3 juta itu. Dirinya mengatakan kepengurusan Gapoktan di Badan Ketahanan Pangan Poso lebih banyak dilakukan di rumah salah seorang staf lainnya.”Kalau itu saya tidak tau dan tidak pernah menerima uang itu pak, memang kepenguruan Gapoktan di kantor sini, namun lebih banyak Gapoktan berurusan di rumah pak Hefar pak, saya tidak pernah menerima dana itu pak,” tandas Sriwahyuningsih.
Pernyataan Sriwahyuningsih itu, sempat membuat heboh ruangan itu, sejumlah rekan Sriwahyuningsih meminta untuk menelpon Hefar guna mengkalrifikasi informasi itu. Lewat telepon genggam salah seorang staf kantor ini, Poso Raya kemudian menanyakan perihal biaya 3 juta itu kepada Hefar.
“Tidak ada saya menerima tiga juta itu,”jawabnya singkat.
Pada Senin (23/5) lalu, Hefar mengatakan dirinya hanya staf biasa yang dipercayakan mengurus Gapoktan kabupaten Poso bersama 2 orang staf lainnya.
Dia mengatakan dana untuk kelompok tani sebesar 100 juta itu sudah dicairkan melalui rekening masing-masing.

“Dana itu sesungguhnya untuk simpan pinjam, namun tidak masalah dibelikan obat atau bibit tanaman, karena kalau panen mereka akan kembalikan lagi dananya,”jelas Hefar kala itu.
Sementara mengenai adanya pembelian 4 botol obat racun dan perangsang tanaman untuk Gapoktan melalui dia bukanlah kemauan pribadinya, namun atas kesepakatan Gapoktan.(fer)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY