Paox Iben, Balik ke Poso Setelah 15 Tahun

0
144
Paox Iben

Danau Poso ini sakral. Posisinya dipersilangan pulau Sulawesi menunjukkan bagaimana pentingnya danau ini, dia semacam jantungnya Sulawesi, jantungnya dunia, bila dia sakit seluruh umat dia dunia sakit (Paox Iben).

oleh Sofyan Siruyu

Agak sulit mendeskripsikan orang ini, penyair? penjelajah? penulis buku? aktivis? ya dia Paox Iben Mudhaffar. Saya beruntung bertemu dengan lelaki berambut gimbal ini pekan lalu. Namun itu ternyata bukan kunjungan pertama dia ke kabupaten Poso. Sebelumnya dia pernah datang saat situasi masih belum menentu tahun 2001 atau 15 tahun lalu.
Perjalanannya kali ini ditemani motor besar bertenaga 650 cc yang terlihat garang. Pantas saja dia menggunakannya, kali ini perjalanan ke Poso merupakan bagian dari ekspedisi ke Indonesia Timur. Penulis yang sudah menghasilkan 3 novel ini mengambil star dari Candi Borobudur, simbol keagungan budaya Indonesia di masa lalu, kemudian ke Surabaya, Madura, Makassar, Toraja dan Tentena. Sekarang Paox sudah berada di Ternate sebelum nantinya melanjutkan perjalanan ke Papua.
Apa sebenarnya yang dicari pria yang pernah menulis sebuah cerpen hebat tentang persahabatan 2 orang Poso ini? Perjalanannya kali ini merupakan upaya dia menggaungkan semboyan Bhineka Tunggal Ika untuk dunia.
Penilaian dia ketika melihat Poso adalah, belum ada yang berubah. Ini bisa jadi merupakan kritik yang menunjukkan apa yang dilihatnya 15 tahun lalu tidak mengalami perubahan, penataan kota wisata Tentena yang masih terlihat kumuh, jauh dari kesan sebagai ikon pariwisata. Entah untuk apa saja anggaran yang bermilyar-milyar setiap tahun itu. Nyatanya Poso sama sekali belum menjadi tujuan wisata, baru sekedar tempat melepas penat wisatawan dari Toraja ke Togean dan sebaliknya.
Padahal modal danau Poso yang terkesan sakral itu sangat kuat. Paox memberi pendapat kuat bagaimana pentingnya danau tektonik ini bagi dunia.
Danau Poso ini ada ditengah pulau Sulawesi. Kalau danau ini sakit, seluruh Sulawesi bahkan dunia juga sakit.
Sayangnya proses industrialisasi di perkebunan yang menghasilkan limbah menjadi persoalan yang mengikis kesakralannya. Coba bayangkan zat kimia ini mengalir ke sungai hingga ke muara. Coba bayangkan berapa kampung yang dilewati limbah ini dan apa dampaknya bagi warga.
“Tentena ini sangat menarik karena ada kesan sakral karena untuk kemari butuh usaha, belum lagi kisah-kisah seperti Torandawe, yakni putri penjaga danau, kisah ini bisa kalau dibawa keluar negeri sangat menarik. Kebudayaan yang tinggi ini meningkatkan dignity orang Pamona,”kata Paox.
Perjalanannya ke barat Indonesia membuat Paox ingin menyampaikan kepada warga Poso bagaimana salah urus pariwisata akhirnya merusak budaya masyarakat setempat. Misalnya ketika hotel-hotel didirikan, masyarakat disekitar lebih tertarik menjadi pekerja disana ketimbang ke sawah. Kekacauan ini jangan sampai terjadi di Poso. Konsep wisata yang menjadikan masyarakat sebagai tokoh utama adalah cara terbaik menarik wisatawan datang dan membuat masyarakat menjadi dirinya sendiri, menjadi makmur tanpa menjadi kuli atau buruh ditengah kekayaan alamnya.(Penulis adalah jurnalis di Poso Raya)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY