Menguji Kekuatan Visi

0
133
Darwis Waru

Era otonomi daerah mengisyaratkan terjadinya persaingan global yang semakin kompetitif. Karena itu, seorang pemimpin pada semua level kepemimpinan diharapkan tidak sekedar memenuhi syarat formal, tapi juga memiliki pandangan jauh ke depan. Di sinilah visi seorang calon pemimpin akan diuji.

Oleh : DARWIS WARU

SEORANG  Manajer sedang melakukan sidak terhadap  karyawannya. Karyawan yang pertama ditanya oleh Sang Manajer. “apa yang sedang anda kerjakan?”. karyawan tersebut pun menjawab singkat, “saya sedang menyusun kertas dokumen”. Demikian penjelasan Karyawan yang pertama, persis seperti apa yang memang sedang dia kerjakan, yakni menyusun kertas dokumen. Manajer kemudian beralih ke karyawan yang kedua dan dia pun mengajukan pertanyaan yang sama, “apa yang sedang  anda kerjakan?” Kali ini jawaban karyawan sedikit berbeda, “Saya sedang memilah-milah dokumen, menata sesuai jenis dan peruntukannya”. Karyawan yang kedua ini ternyata bisa menjelaskan fungsi dokumen, termasuk cara menggunakannya.
Terakhir,  Manajer menghampiri karyawan yang ketiga, “apa yang sedang anda kerjakan?”. Karyawan yang ketiga ini pun menjawab, “Saya sedang membangun sebuah sistem informasi manajemen, menyiapkan data base berbasis tekhnologi modern, sehingga memudahkan karyawan pengganti saya untuk melanjutkan pekerjaan saya nantinya”. Selain itu karyawan yang ketiga ini juga menambahkan, bagaimana dinamika bisnis menuntut strategi khusus untuk menciptakan sinergistias lintas unit, termasuk ukuran-ukuran capaiannya. “Pokoknya sistem informasi managemen ini, diharapkan bisa menjadi rujukan menajemen modern Pak Manajer”, kata karyawan yang ketiga.
Dari ketiga karyawan tersebut, mana yang menurut Anda akan bekerja lebih baik? Jawabannya tentu saja karyawan yang ketiga kan? Mengapa? Apa yang membedakan dengan karyawan pertama, kedua, dan ketiga?  Jawabannya tak lain adalah Visi.  Karyawan pertama tidak memiliki visi.  Baginya, yang penting adalah mengerjakan perintah, setelah itu terima gaji tiap bulan, urusan selesai.  Sementara karyawan yang kedua sedikit lebih kreatif, meskipun masih sekedar memikirkan dirinya dalam menekuni rutinitas  sehari-hari. Ada pun karyawan yang ketiga, tidak sekedar memikirkan gaji, pun bukan hanya memikirkan kemudahan pekerjaannya. Namun, lebih dari itu dia memiliki pandangan jauh ke depan, menciptakan sistem bagi siapa saja yang akan bekerja di perusahaan tempatnya bekerja, termasuk menyiapkan perangkat tekhnis dalam menjawab tantangan perusahaan ke depan.
Sepintas, perbedaan jawaban para karyawan tadi memang tidak memberikan pengaruh langsung, toh ketiganya  tetap bekerja dengan baik. Namun bila diperhatikan dengan teliti, semangat, ketekunan, ketelitian, dan gairah dari ketiga karyawan tadi benar-benar berbeda. Karyawan yang pertama memulai pekerjaannya dengan mengeluh. Pada saat bekerja, ia mengerjakan tugasnya tidak dengan sungguh-sungguh. Ketika dokumen yang disusunnya kurang rapi, ia pun tidak berusaha membetulkannya, kecuali bila ia ditegur oleh sang Manajer. Beberapa saat sebelum waktunya pulang, karyawan yang satu ini pun sudah membersihkan badannya. Saat sang Manajer memberi tahu bahwa jam kerja sudah selesai, maka karyawan ini pun segera pergi.
Perilaku yang benar-benar berbeda diperlihatkan oleh karyawan yang ketiga. Ia memulai pekerjaannya dengan riang gembira penuh semangat, dia sudah memiliki gambaran mengenai sistem informasi manajemen yang akan dia bangun. Jika dalam menekuni pekerjaannya terdapat dokumen yang tidak rapi, segera dia bergegas merapikannya. Selain itu, sebelum pulang, dia selalu menyempatkan diri memeriksa hasil pekerjaannya. Karena itu tidaklah mengherankan apabila karyawan yang ketiga memberikan hasil kerja yang lebih memuaskan, dibandingkan karyawan yang pertama.
Begitulah sejatinya kita menguji kekuatan visi. Pengalaman menarik pernah pula penulis rasakan, saat itu tahun 2000 silam, di mana situasi dan kondisi Poso masih diliputi kecemasan, dua komunitas yang bertikai masing-masing membangun jarak, komunikasi pun terputus karenanya. Seorang kawan wartawan tiba-tiba bertanya kepada saya, “berapa lama waktu yang dibutuhkan Poso untuk bisa kembali pulih?”, tanpa berpikir panjang, saya tegaskan, ‘Poso butuh waktu 10 tahun’. Setelah pernyataan itu dimuat di sebuah media, banyak yang mencibir, tak percaya Poso bisa kembali pulih tahun 2010. Alhamdulillah, nyatanya memang kondisi Poso bisa pulih di tahun itu, setidaknya telah tercipta komunikasi yang sehat antar komunitas.
Kini, kekuatan visi kita sedang diuji, membangun Poso menuju ke tahap lebih baik, membutuhkan indikator yang terukur. Seorang kepala SKPD ke depan diharapkan berani memasang target secara realistis, dengan ukuran capaian yang tegas. Karena itu seorang ASN sejatinya tak perlu berkecamuk (berusaha keras cari muka), untuk mendapatkan posisi tertentu. Bukankah berperan dalam memajukan daerah ini, tidak selalu harus dibarengi dengan posisi?
Pengalaman memimpin selama tiga bulan, rasa-rasanya cukup bagi Bupati dan Wakil Bupati, untuk memahami sepak terjang bawahannya. Karena itu, kita pun boleh berharap, Kepala SKPD ke depan akan diisi oleh mereka yang memiliki kapasitas mumpuni, loyalis yang rasional, serta jitu dalam menetapkan target yang akan dituju. Mereka itulah yang pantas kita sebut sebagai pejabat yang visioner.  (Penulis adalah Redaktur Senior Poso Raya)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY