Kasus Penganiayaan, Oknum Polisi dan Korban Sama-sama Melapor

0
202
PETRUS A. MATASIK- KASAT RESKRIM POLRES TOUNA

TOUNA – Aksi kekerasan yang diduga dilakukan oknum anggota kepolisian terhadap dua warga sipil di Kabupaten Tojo Unauna (Touna), di awal tahun 2016 mendapat perhatian dari pihak kepolisian setempat.
Kepala Satuan (Kasat) Reskrim Polres Touna, AKP Petrus A. Matasik saat ditemui mengatakan, kasus tersebut saat ini tengah ditangani pihaknya. Petrus menyebutkan, dalam kasus ini berdasarkan laporan yang masuk ke pihak, baik oknum polisi berinisial ADS maupun korban AM sama-sama melaporkan kasusnya ke Polres Touna.
“Keduanya, baik ADS maupun AM sama-sama melaporkan kasus tersebut ke Polres untuk ditindaklanjuti,” katanya.
Dia menjelaskan, saat ini pihaknya melalui penyidik telah memintai keterangan baik ADS maupun AM sebagai pelapor dalam kasus tersebut. Dari hasil keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang sudah diberikan keduanya, pihaknya akan mempelajarinya kembali untuk selanjutnya dikembangkan.
“Kami tetap menindaklanjuti kasus tersebut dan mempelajari serta mengkaji hasil keterangan yang telah dibuat dalam BAP untuk selanjutnya dikembangkan sesuai keterangan yang ada,” katanya.
Sementara itu, Kakak Korban AM, Pulu mengatakan, pihaknya akan tetap meneruskan kasus ini ke ranah hukum. Hal ini dikarenakan adiknya yakni AM sudah menjadi korban yang diduga dilakukan oknum anggota polisi berinisial ADS, yang menyebabkan wajah AM babak belur dan mengalami luka bagian dalam khususnya dibagin hidung dan mata sehingga membuat yang bersangkutan tidak bisa bekerja untuk memberi nafkah keluarganya.
“Kami tidak akan pernah mundur dalam kasus ini. Kami hanya ingin pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya,” katanya.
Dia mengaku, pihaknya juga keberatan dengan ancaman ADS terhadap salah satu teman AM yakni UY warga Desa Sabo Kecamatan Ampana Tete,  sebelum dimintai keterangan oleh penyidik Polres Touna untuk dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pada Jumat 1 Janurai 2016. Lalu. UY di BAP oleh penyidik sebagai terlapor atas laporan  ADS pada 1 Januari 2016 usai kejadian. UY sempat menginap satu malam di sel tahanan Polres Touna, karena dijemput mobil patroli di tempat kejadian perkara (TKP) di jalan Tadulako Lorong Mangga  Kelurahan Ampana Kecamatan Ampana Kota.
“Kami akan mencabut keterangan yang dibuat UY dalam BAP, karena UY saat dimintai keterangan dalm kondisi tidak sehat dan dibawa ancaman ADS,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sabo, Muhidin Lintabu menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang untuk memprosesnya sesuai hukum yang berlaku. Dia menyebutkan, selaku kepala desa pihaknya berkewajiban mendampingi warganya ketika mengalami sebuah permasalahan.
“Kami selaku pemerintah desa menginginkan, agar hukum berpihak pada yang benar sehingga masyarakat juga merasa dilindungi ketika merasa benar,” sebutnya.
Sebelumnya, aksi kekerasan yang diduga dilakukan oknum anggota kepolisian berinisial ADS tersebut terhadap warga sipil berinisial AM (31) warga Kelurahan Uemalingku Kecamatan Ratolindo dan UY (34) warga Desa Sabo, terjadi di Jalan Tadulako Lorong Mangga  Pandalengi Kelurahan Ampana Kecamatan Ampana Kota, sekira pukul 01.30 Wita, usai merayakan tahun baru 2016.
Aksi kekerasan berupa penganiayaan dan pengroyokan yang diduga dilakukan ADS bersama tiga orang lainnya, Jumat 1 Januari 2016 dilaporkan ke kepolisian resor (Polres) Touna.
Salah satu korban tindak kekerasan tersebut yakni AM melaporkan ADS yang tidak lain adalah oknum anggota polisi yang bertugas di Desa Dolong Kecamatan Walea Kepulauan dengan laporan polisi nomor STPL/02/I/2016/Sulteng/Res Touna tertanggal 1 Januari 2016. Dalam laporan  yang diterima  anggota Jaga Brigadir Polisi Chairil Latif tersebut memuat laporan korban AM yang isinya menerangkan, Korban AM melaporkan bahwa telah terkjadi kasus pengroyokan  dan penganiayaan yang dilakukan terlapor laki-laki berinisial ADS (31) yang beralamat Jalan Tadulako Kelurahan Ampana Kecamatan Ampana  Kota bersama tiga orang lainnya.
Menurut AM, peristiwa penganiayaan dan pengroyokan terhadap dua warga sipil tersebut bermula saat keduanya yakni AM dan UY mendatangi kos-kosan uyang terletak di Jalan Tadulako Lorong Mangga II yang merupakan kos-kosan, untuk menanyakan keberadaan temannya yang diketahui berada di kos tersebut.
Dia menyebutkan, saat bertanya soal keberadaan temannya tersebut, seseorang dari empat orang yang sedang meneguk minuman keras di depan kos tersebut, tiba-tiba melayangkan pukulannya ke korban AM. Saat dipukul pertama kali, korban AM justru meminta maaf, namun terlapor ADS kembali memukul korban AM.
Merasa tidak bersalah dan telah meminta maaf, saat terlapor ADS hendak kembali memukul kemudian korban AM berupaya menghindari pukulan terlapor, dan kemudian mendorong ADS sehingga ADS terjatuh. Melihat ADS terjatuh, tiga orang yang berada di kos tersebut kemudian berusaha membantu ADS dan kemudian memukul korban AM berulang kali.
Korban UY yang saat itu berada tidak jauh dari posisi AM, berupaya melerai, namun nasib naas justru menimpanya. UY justru menjadi bulan-bulanan keempatnya. Melihat kondisi yang tidak berimbang, AM kemudian berupaya meloloskan diri dari pengroyokan tersebut.
UY yang tertinggal di tempat itu tidak berdaya melawan keempat orang tersebut, sehingga mengakibatkan muka korban babak belur dan mengalami pendarahan di bagian mata.
Anehnya, UY justru dibawa ke Polres Touna dengan mobil patroli atas laporan ADS, bahwa yang bersangkutan telah melakukan penganiayaan terhadap dirinya di tempat tersebut.
Melihat kondisi kedua korban babak belur dengan luka bengka dibagian muka, keluarga korban meminta kasus yang menimpa AM dan UY diusut lebih lanjut oleh pihak yang berwenang karena salah satu pelaku penganiayaan melibatkan oknum anggota kepolisian.
Syarfin Longku dari Koalisi Anti Kekerasan terhadap Masyarakat Sipil Touna atas nama keluarga korban mendesak pihak kepolisian Touna untuk menindaklanjuti laporan korban yang diduga telah mendapat tindak kekerasan dari oknum anggota polisi yang bertugas di wilayah hukum Polres Touna.
“Kami meminta agar oknum anggota polisi yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap masyarakat sipil tersebut ditindak tegas oleh satuannya dan menahan yang bersangkutan untuk diproses sesuai hokum yang berlaku,” tegasnya. RHM

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY